Permainan Bagasing yang sekarang sudah jarang dimainkan anak - anak (Pinterest/febriani rr)
KALSEL - Membayangkan masa kecil anak-anak Banjar zaman dahulu adalah membayangkan sebuah kanvas sosial yang hidup dan pen warna-warni. Berbeda dengan konsep pertemanan modern yang seringkali terbatas pada sekat kelas sekolah atau genggam an ponsel, pertemanan mereka dibangun di atas fondasi budaya yang kuat, kolektif, dan penuh makna.
Jejaring sosial mereka tidaklah sederhana. Riset terhadap sumber-sumber tepercaya, seperti jurnal etnografi dan arsip budaya, mengungkap setidaknya ada enam tipe pertemanan yang membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan mereka.
Pertama, Pertemanan Berbasis Kekerabatan (Bubuhan). Anak-anak tumbuh dalam naungan ‘bubuhan’ atau kelompok kekerabatan luas. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan sepupu dan anak-anak kerabat dekat, menciptakan ikatan yang blur antara keluarga dan sahabat. Hubungan ini diperkuat melalui ritual adat dan gotong royong harian.
Baca juga: Balogo: Permainan Tradisional Kalimantan yang Sarat Makna dan Keunikan
Kedua, Pertemanan Ruang Sungai. Bagi masyarakat Banjar, sungai adalah nadi kehidupan. Anak-anak menjadikan tepian sungai, perahu, dan pematang sebagai arena bermain mereka. Di sini, ter bentuklah kelompok lintas usia untuk mandi, memancing, atau sekadar bertualang. Sungai menjadi “sekolah sosial” tempat mereka belajar kerja sama, keberanian, dan aturan tidak tertulis komunitas.
Ketiga, Pertemanan Melalui Permainan Tradisional. Permainan kolektif seperti balogo (permainan menggunakan tempurung), badaku (sejenis kasti), atau malayangan (layang-layang) adalah magnet pemersatu. Permainan ini tidak hanya seru, tetapi juga mengajarkan nilai fair-play, giliran, dan strategi. Museum Lambung Mangkurat mencatat peran vital permainan ini dalam melatih kepekaan sosial anak.
Keempat, Pertemanan Lembaga Keagamaan. Pengajian dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) menjadi ruang sosial penting. Di tempat ini, anak-anak tidak hanya belajar mengaji bersama tetapi juga membentuk ikatan persahabatan yang disatukan oleh nilai-nilai keislaman. Kelompok sebaya ini menjadi agen sosialisasi nilai agama dan multikultural.
Baca juga: 3 Permainan Tradisional Kalsel yang Sudah Jarang Dimainkan
Kelima, Pertemanan Kerja atau Mentoring. Pola asuh kolektif memungkinkan anak-anak terlibat dalam aktivitas orang dewasa. Anak laki-laki ikut ayah ke ladang atau sungai, sementara anak perempuan menemani ibu menganyam atau memasak. Interaksi ini menciptakan dinamika pertemanan yang bersifat mentor-mentee, tempat transfer ilmu dan keterampilan hidup terjadi.
Keenam, Pertemanan dalam Ritual Adat. Acara-acara seperti baayun anak (upacara ayun an anak) atau pernikahan adalah festival bagi anak-anak. Mereka berkumpul, bermain, dan membentuk kelompok sementara yang seringkali berlanjut menjadi persahabatan jangka panjang.
Pola pertemanan ini menunjukkan bahwa masa kecil anak Banjar dahulu adalah sebuah pendidikan karakter yang terintegrasi dengan budaya dan lingkungan. Sayangnya, perubahan zaman dan ruang hidup telah menggeser dinamika indah ini. Memahami warisannya adalah langkah awal untuk melestarikan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel, Jurnal Al-Madrasah., Kemendikbud