KALSEL - Kalimantan Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu episentrum keilmuan agama Islam di Indonesia. Wilayah ini tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren yang kuat, tetapi juga mengembangkan institusi pendidikan modern yang berperan penting dalam produksi dan diseminasi ilmu keislaman.
Mari kita mengupas tiga pusat pengetahuan agama yang paling berpengaruh di provinsi ini, mulai dari lembaga pendidikan tinggi modern hingga pesantren tradisional dan latar historis yang membentuknya.
UIN Antasari Banjarmasin: Integrasi Akademik dan Keagamaan
UIN Antasari Banjarmasin merupakan perguruan tinggi Islam negeri tertua dan terbesar di Pulau Kalimantan. Bermula dari IAIN Antasari yang didirikan pada 20 November 1964, institusi ini resmi bertransformasi menjadi universitas Islam negeri pada 2017 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2017.
Baca juga: Jejak Sejarah Darussalam Martapura yang Menjadi Pesantren Tertua di Kalimantan Selatan
niversitas ini menawarkan pendidikan integratif yang menggabungkan pendekatan akademik-modern dengan tradisi keislaman. Dengan 5 fakultas (termasuk Fakultas Syariah, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) dan Program Pascasarjana, UIN Antasari memiliki 40 program studi yang tersebar di dua kampus: Banjarmasin dan Banjarbaru .
Peran UIN Antasari tidak hanya terbatas pada pengajaran, tetapi juga mencakup riset dan pengabdian masyarakat. Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, misalnya, aktif dalam kajian hadis dan bahkan terlibat dalam program riset internasional terkait Imam Al-Bukhari di Uzbekistan.
Selain itu, universitas ini juga mengoperasikan Ma’had Al-Jami’ah (asrama akademik) dan pusat kajian khusus seperti Pusat Kajian Halal, yang menandakan komitmennya dalam menyatukan tradisi pesantren dengan pendekatan keilmuan modern.
Pondok Pesantren Darussalam Martapura: Benteng Tradisi dan Modernisasi
Baca juga: Wisata Religi di Martapura, Ziarah Spiritual ke Makam Ulama & Masjid Bersejarah
Pondok Pesantren Darussalam di Martapura merupakan salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Kalimantan Selatan. Didirikan pada 14 Juli 1914, pesantren ini telah melahirkan banyak ulama dan tokoh agama yang berperan besar dalam masyarakat Banjar.
Awalnya berbasis sistem halaqah tradisional, pesantren ini telah berevolusi menjadi lembaga modern yang mengintegrasikan kurikulum agama dengan pendidikan umum.
Pesantren Darussalam tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pembentuk elite keagamaan lokal. Banyak alumni yang mengisi posisi strategis seperti qadhi, mufti, dan guru agama.
Pesantren ini juga mengelola beberapa sekolah formal seperti MTs, SMA, dan SMK, menunjukkan adaptasinya terhadap tuntutan zaman tanpa kehilangan khittah keagamaannya.
Baca juga: Merayakan Maulid Nabi: Tradisi, Makna, dan Kontroversi di Berbagai Belahan Dunia
Konteks Historis: Dari Negara ke Martapura
Sebelum Martapura menjadi pusat keagamaan yang dominan, wilayah Negara pernah menjadi basis ulama dan pusat pengajaran pada masa Kesultanan Banjar. Pergeseran ini tidak terlepas dari keterkaitan erat antara ulama dan kerajaan pada masa lalu.
Tradisi pengiriman ulama seperti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ke Mekkah untuk mendalami ilmu agama menunjukkan betapa kesultanan sangat mendukung perkembangan keilmuan Islam.
Seiring waktu, Martapura tumbuh menjadi “kota santri” dan pusat keagamaan utama, sementara Banjarmasin berkembang menjadi pusat pendidikan formal melalui institusi seperti UIN Antasari. Pemetaan sejarah ini membantu menjelaskan bagaimana akar tradisi keagamaan Kalsel berintegrasi dengan institusi modern, menciptakan landscape keilmuan yang unik dan dinamis.
Baca juga: Dinamika Dunia Kerja di Kalimantan Selatan: Antara Komoditas dan Transformasi SDM
Ringkasan Temuan
- UIN Antasari : Pusat akademik modern dengan peran riset dan pengabdian masyarakat yang kuat.
- Pondok Pesantren Darussalam : Lembaga tradisional yang berhasil beradaptasi dengan modernisasi tanpa kehilangan jati diri.
- Konteks Historis : Pergeseran pusat keagamaan dari Negara ke Martapura mencerminkan dinamika politik dan keagamaan yang panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: UIN Antasari, Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Pengadilan Tinggi Agama Banjarmasin