Kota Martapura di provinsi Kalimantan Selatan dikenal luas sebagai pusat perdagangan batu mulia. Namun, ada julukan lain yang melekat erat pada kota ini, yaitu "Serambi Mekah". Sebutan ini bukanlah pemberian tanpa makna, melainkan memiliki akar sejarah yang dalam terkait perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Akar Sejarah yang Mendalam
Julukan "Serambi Mekah" bagi Martapura tidak muncul secara tiba-tiba. Asal-usulnya dapat ditelusuri kembali pada abad ke-18, tepatnya pada masa hidup Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Ulama besar bermazhab Syafi'i ini dikenal melalui karya monumentalnya, Sabilal Muhtadin, yang menjadi rujukan penting dalam kajian fikih di seluruh Nusantara. Yang menarik, karya ini bahkan dipelajari di Universitas Al-Azhar, Mesir, menunjukkan pengaruhnya yang luas.
Setelah menghabiskan waktu selama tiga setengah dekade untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekah dan Madinah, Syekh Arsyad kembali ke kampung halamannya.
Di Martapura, tepatnya di daerah Dalam Pagar, ia mendirikan pusat pendidikan Islam yang menjadi fondasi perkembangan keilmuan agama di wilayah ini.
Pusat Pendidikan yang Berkembang Pesat
Baca juga: Masjid Sultan Suriansyah: Jejak Islamisasi dan Arsitektur Tradisional Banjar di Kalimantan Selatan
Pengaruh Syekh Arsyad tidak berhenti pada masa hidupnya saja. Pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1914, berdirilah Pondok Pesantren Darussalam atas prakarsa KH. Djamaluddin.
Lembaga pendidikan ini berkembang menjadi salah satu yang terbesar di seluruh Kalimantan, menarik minat pelajar dari berbagai penjuru Nusantara.
Yang membuat pesantren ini unik adalah metode pembelajarannya yang memadukan sistem sorogan (belajar langsung dengan guru) dengan kurikulum modern.
Pendekatan ini berhasil menciptakan atmosfer keagamaan yang khas di Martapura, di mana para santri dengan pakaian putih dan sarung menjadi pemandangan sehari-hari, mengingatkan pada suasana di sekitar Masjidil Haram.
Kehidupan Religius yang Mengakar
Martapura tidak hanya dikenal karena lembaga pendidikannya. Kota ini juga menjadi pusat berbagai aktivitas keagamaan yang hidup dan dinamis. Beberapa tradisi yang masih bertahan hingga kini antara lain:
- Majelis taklim yang aktif di berbagai lingkungan
- Kegiatan zikir bersama yang rutin dilaksanakan
- Haul tahunan untuk menghormati ulama terkemuka seperti Guru Sekumpul (KH Zaini Abdul Ghani) yang selalu ramai dikunjungi
Keberadaan Masjid Agung Al-Karomah dan beberapa masjid tua lainnya yang menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di daerah ini
Memasuki dekade 1980-an, Martapura menghadapi tantangan baru berupa pengaruh modernisasi yang mulai mengubah gaya hidup masyarakat. Menurut penuturan KH. Khalilurrahman, salah satu pimpinan Pesantren Darussalam, perubahan ini cukup mempengaruhi tradisi keagamaan yang selama ini dijaga.
Baca juga: Jejak Sejarah Darussalam Martapura yang Menjadi Pesantren Tertua di Kalimantan Selatan
Menyikapi hal ini, pemerintah daerah mengambil langkah konkret. Pada tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Banjar bekerja sama dengan Insida Martapura menyusun suatu rencana induk yang bertujuan mempertahankan dan mengembangkan identitas keagamaan kota ini.
Rencana ini mencakup berbagai strategi untuk memperkuat posisi Martapura sebagai pusat pendidikan Islam dan tujuan wisata religi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Pemerintah Kabupaten Banjar, Sejarah Institut Agama Islam Darussalam Martapura