Rabu, 30 JULI 2025 • 09:00 WIB

Bayangkan Jika Banjar Jadi Kota Cyberpunk dalam 2100 Nanti: Teknologi Tinggi, Budaya Tetap Menyala

Author

Banjar di 2100 tahun jadi sebuah kota cryberpunk (Dok. Ilustrasi AI)

KALSEL – Apa jadinya bila Banjar, wilayah Kalimantan Selatan yang religius dan lekat dengan budaya sungai ini, menjelma menjadi kota futuristik penuh neon dan teknologi pada tahun 2100? Bayangkan Menara Pandang Banjar bertransformasi menjadi pusat kendali drone, pasar terapung berubah jadi jalur logistik digital, dan alunan panting bersanding dengan dentuman synthwave. Ini bukan sekadar fantasi, melainkan eksplorasi masa depan berbasis kearifan lokal.  

Cyberpunk: Masa Depan yang Kontras  
Cyberpunk sering menggambarkan dunia distopia dengan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), augmentasi tubuh, dan kota berpendar neon. Namun, intinya bukan pada kegelapan, melainkan bagaimana manusia beradaptasi. Di Asia Tenggara, konsep ini bisa berpadu dengan tradisi — seperti yang mungkin terjadi di Banjar. Riset dari konferensi Southeast Asian Digital Futures (2023) mencatat potensi unik kawasan seperti Kalimantan menjadi kota hybrid: futuristik, tapi tetap berakar pada alam dan budaya.  

Baca juga: Spot Foto Ikonik Di Banjarmasin yang Wajib Dikunjungi!

Potret Banjar 2100: Sungai, Neon, Tradisi

1. Sungai Martapura: Jalan Raya Udara
   Sungai tak lagi sekadar jalur air. Ia menjadi aerial route untuk taksi drone dan kapal kargo tanpa awak. Klotok ikonik berevolusi: desain kayunya bertahan, tetapi digerakkan tenaga surya dan dikendalikan AI. Transportasi ini mengakomodasi logistik modern tanpa menghapus identitas lokal.  

2. Pasar Terapung Digital 
   Pedagang tak perlu hadir fisik. Mereka berjualan via hologram dari rumah, sementara barang dagangan diproyeksikan sebagai model 3D di atas air. Transaksi? Cukup dengan scan retina atau pembayaran via chip implant. Soto Banjar tetap ada, tetapi cara belinya yang berubah.  

3. Menara Pandang: Pusat Kendali Neural
   Menara ini berubah jadi "otak kota". Sistem neural network memantau lalu lintas, energi, bahkan emosi warga melalui analisis mikroekspresi wajah dari kamera publik — bukan untuk pengawasan represif, tapi mengoptimalkan pelayanan publik.  

4. Masjid dan Teknologi: Harmoni Digital
   Imam hologram bisa berkhotbah dalam berbagai bahasa daerah. Kitab suci diakses via neural link, namun nilai keasliannya terjaga. Musyawarah (bapanderian) tetap hidup lewat digital town hall, memadukan demokrasi tradisional dengan platform virtual.  

Baca juga: 5 Fakta Menarik Bekantan! Sang Maskot Kalimantan Selatan

5. Bekantan: Maskot Teknologi Hijau
   Primata khas ini jadi simbol bioteknologi lingkungan. Dengan "cyber suit" pemantau ekosistem, ia mengampanyekan karbon netral se-Kalsel, sekaligus menjadi maskot pendidikan AI di sekolah — bukti bahwa pelestarian alam bisa berjalan beriringan dengan inovasi.  

Masa Depan yang Tak Melupakan Akar  
Rencana Indonesia 2045 oleh Bappenas menekankan pengembangan smart city di luar Jawa, termasuk berbasis sungai. Banjar berpotensi menjadi contoh: teknologi tingginya tak menghapus kultur, malah memperkuatnya. Seperti dikutip dari analisis Kompas dan Tempo, kunci kota masa depan adalah memadukan futurisme dengan kearifan lokal.  

Di tahun 2100, Banjar mungkin akan disinari neon, tetapi kehangatannya tetap sama. Sapaan “Ulun datang, Pian kawa jua membeli?” masih terdengar — meski mungkin diucapkan oleh asisten virtual. Inilah cyberpunk versi Banua: progresif secara teknologi, tetapi jiwa komunalnya tetap menyala.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bappenas.go.id, Kompas & Tempo. (2023), Southeastdigitalfutures.org

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU