Minggu, 27 JULI 2025 • 11:43 WIB

Menyusuri Jejak Perlawanan Rakyat Banjar di Kalimantan Selatan dalam Museum Wasaka

Author

Rumah Adat Banjar, Bubungan Tinggi (Pinterest/arinuno)

Bagi pecinta sejarah, Museum Wasaka (Waja Sampai Kaputing) di Banjarmasin adalah destinasi wajib. Museum ini bukan sekadar gedung penyimpan artefak, melainkan saksi bisu semangat pantang menyerah rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajah. Nama "Wasaka" sendiri berasal dari motto perjuangan lokal: "Waja Sampai Kaputing"—yang berarti "berjuang hingga tetes darah penghabisan".  

Rumah Bubungan Tinggi yang Berubah Jadi Museum  
Museum Wasaka menempati bangunan Rumah Bubungan Tinggi, arsitektur tradisional Banjar yang dialihfungsikan dari hunian menjadi ruang pamer pada 1991. Lokasinya strategis: di tepi Sungai Martapura, persis di sebelah Jembatan 17 Mei. Pengunjung bisa mencapainya dengan kelotok (perahu tradisional) atau kendaraan darat.  

Koleksi yang Bercerita  
Di dalamnya, tersimpan sekitar 400 benda bersejarah yang terbagi dalam beberapa kategori:  
1. Senjata Tradisional: Mandau, keris, dan tombak yang digunakan para pejuang Banjar.  
2. Dokumen Asli: Termasuk naskah proklamasi 17 Mei 1949—versi lokal yang menandai perlawanan terhadap Belanda.
3. Peralatan Perang: Senjata api rakitan, pakaian perang, hingga jimat barajah (bertuliskan mantra perlindungan).  

Baca juga: Pendiri Negara Dipa yang Melegenda, Pangeran Suryanata

Salah satu koleksi unik adalah kepala perahu yang digunakan dalam pertempuran sungai—bukti bahwa rakyat Banjar memanfaatkan geografi berbasis sungai untuk strategi gerilya.  

Filosofi di Balik Tata Ruang  
Museum ini dirancang untuk memadukan nilai sejarah dan kearifan lokal. Misalnya, ruang pamer tetap disusun secara kronologis, mulai dari era Perang Banjar (1859–1905) hingga Revolusi Fisik (1945–1949). Tata letak ini membantu pengunjung memahami alur perjuangan tanpa kehilangan konteks budaya Banjar.  

Mengapa Museum Ini Istimewa?  
- Edukasi Interaktif: Beberapa koleksi bisa disentuh, seperti replika senjata, untuk pengalaman lebih imersif.  
- Lokasi Simbolik: Berdiri di dekat sungai yang dulu menjadi jalur logistik pejuang.  
- Akses Terjangkau: Tiket masuk gratis, dengan jam operasional Selasa–Minggu.  

Tips Berkunjung:  
- Bawa kamera untuk mengabadikan arsitektur rumah Banjar yang langka.  
- Gunakan pemandu lokal agar tak melewatkan cerita di balik koleksi.  
- Kunjungi pasar terapung di sekitarnya untuk melengkapi pengalaman wisata.  

Baca juga: Khazanah Intelektual Banjar: Tiga Pilar Peradaban Kalimantan Selatan

Museum Wasaka adalah time capsule yang mengajak kita merenungi makna kemerdekaan melalui sudut pandang lokal. Tak heran jika tempat ini kerap dikunjungi pelajar, peneliti, hingga wisatawan asing yang penasaran dengan sejarah Nusantara yang tak tercatat di buku teks.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Geopark Meratus, Dinas Kebudayaan Kota Banjarmasin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU