Gedung Menara Pandang di Banjarmasin (Pinterest/Cepek)
Pantun Banjar tidak sekadar puisi rakyat yang menghibur, tetapi juga menjadi cerminan nilai-nilai budaya, spiritual, dan sosial masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Dari prosesi adat hingga pendidikan karakter, pantun ini terus hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi lisan Banjar. Artikel ini mengulas tiga perspektif utama tentang pantun Banjar dan Hikayat Banjar, berdasarkan penelitian terpercaya, untuk memahami kekayaan makna di baliknya.
Pantun dalam Ritual Adat: Maantar Jujuran
Salah satu fungsi penting pantun Banjar adalah dalam prosesi maantar jujuran, sebuah tradisi pertukaran uang dalam pernikahan adat Banjar. Penelitian antropolinguistik oleh Septiana dkk. (2023) mengungkap bahwa pantun dalam ritual ini memiliki struktur yang khas, mulai dari rima hingga pola sintaksis yang teratur. Kosakata seperti balukah (perahu kecil), perahu, dan marajut sering muncul, mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar yang dekat dengan sungai dan aktivitas tradisional.
Baca juga: Tari Radap Rahayu Jadi Simbol Keselamatan dan Keindahan Budaya Banjar
Yang menarik, pantun dalam maantar jujuran bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penyampaian pesan moral dan sosial. Revitalisasi pantun Banjar melalui media digital, seperti YouTube, menunjukkan upaya pelestarian di era modern.
Pantun sebagai Media Pendidikan Spiritual
Agus Yulianto, dalam kajiannya, menemukan bahwa pantun Banjar sarat dengan nilai-nilai Islam, seperti tauhid, akhlak mulia, dan kewajiban salat. Salah satu contoh pantun yang dikutip dalam penelitiannya berbunyi:
"Parang tumpul handak dititik, handak dititik ka subarang. Apa guna bawajah cantik, bila kada suah sumbahyang."
Artinya, "Parang tumpul hendak ditajam, hendak ditajam ke seberang. Apa guna berwajah cantik, bila tidak pernah salat." Pantun ini menggambarkan betapa pentingnya ibadah dibanding sekadar penampilan fisik.
Melalui pantun, masyarakat Banjar mengajarkan nilai-nilai agama secara halus namun efektif. Ini membuktikan bahwa sastra lisan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan karakter.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Budaya Banjar Melalui Podcast Lokal yang Kaya Konten
Hikayat Banjar: Kronik Sejarah dan Akulturasi Budaya
Selain pantun, Hikayat Banjar menjadi salah satu khazanah sastra tertulis yang penting. Naskah ini mencatat sejarah Kerajaan Banjar, mulai dari Negara Dipa hingga Kesultanan Banjarmasin. Versi terakhirnya diperkirakan ditulis sekitar tahun 1663 dan terdiri dari hampir 4.787 baris.
Yang menarik, Hikayat Banjar juga merekam jejak kesenian tradisional seperti gamalan, tarian wireng, dan pertunjukan wayang, yang menunjukkan pengaruh budaya Jawa dan Bali. Migrasi orang Jawa ke Banjarmasin pada abad ke-17 turut memperkaya tradisi seni Banjar, menciptakan akulturasi yang unik.
Hal itu menunjukkan bahwa:
Dengan memahami ketiga aspek ini, kita melihat betapa kaya dan dinamisnya sastra Banjar. Pelestariannya di era modern menjadi tantangan sekaligus peluang untuk terus menghidupkan warisan budaya ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Septiana, A., Dkk. (2023). Tradisi Berbalas Pantun Dalam Prosesi Maantar Jujuran Suku Banjar: Kajian Antropolinguistik., Yulianto, A. Pantun Banjar Sebagai Media Pendidikan Karakter., Hikayat Banjar (Wikipedia & Analisis Yudhistira, UGM).