Di sudut-sudut pasar tradisional Banjar, aroma manis dan gurih seringkali mencuri perhatian. Salah satu yang paling khas adalah Wadai Satu—kue kecil bertekstur rapuh yang begitu digigit langsung lumer di lidah. Lebih dari sekadar camilan, kue ini adalah penjaga memori budaya yang nyaris tergerus zaman.
Kisah di Balik Nama "Satu" yang Tak Sendirian
Mendengar namanya, banyak yang mengira Wadai Satu adalah kue tunggal. Padahal, ia bagian dari keluarga besar Wadai 41 Macam—ritual kuliner yang sudah ada sejak era Kerajaan Negara Dipa. Konon, jumlah 41 ini melambangkan kebersamaan, di mana setiap kue mewakili doa dan harapan.
Uniknya, meski namanya "Satu", kue ini justru jarang disajikan sendiri. Ia selalu hadir bersama puluhan kue lainnya dalam acara-acara penting: mulai dari pernikahan, kelahiran anak, hingga selamatan panen. Warna kremnya yang polos dianggap simbol kesucian, sementara rasa manisnya yang tidak neko-neko mencerminkan kesederhanaan masyarakat Banjar tempo dulu.
Baca juga: Serabi Banjar yang Berkuah Manis-Gurih dan Menggugah Selera
Apa yang membuat Wadai Satu begitu dikenang? Rahasianya terletak pada kontras teksturnya. Bagian luar terasa renyah saat dipegang, tetapi begitu masuk ke mulut, ia meleleh seperti debu emas di lidah. Tekstur unik ini didapat dari proses pengeringan yang sabar—perlu dijemur berjam-jam di terik matahari atau dioven dengan api kecil.
Bahan utamanya pun sarat makna:
- Tepung kacang hijau sebagai simbol kesuburan
- Gula merah yang melambangkan kehangatan
- Santan kental pemberi rasa gurih yang memikat
Dulu, Wadai Satu hanya muncul di acara-acara sakral. Kini, ia bisa ditemui di warung-warung kecil di pinggir Sungai Martapura atau dijajakan di atas perahu-perahu pasar terapung. Beberapa ibu-ibu di Banjarmasin masih mempertahankan tradisi membuatnya secara manual, sambil bercerita tentang masa kecil mereka yang selalu diiringi aroma kue ini mengering di teras rumah.
Bagi generasi muda, Wadai Satu mulai terasa asing. Namun, beberapa komunitas seperti *Gerakan Wadai Banjar* gencar mengenalkannya kembali melalui festival kuliner dan workshop. Bahkan, ada kafe yang menyajikannya dengan sentuhan modern: ditaburi kelapa parut atau disajikan bersama es dawet.
Baca juga: Es Campur Khas Kalsel: Pelepas Dahaga Saat Cuaca Panas
Di tengah gempuran kue-kue kekinian, Wadai Satu ibarat mutiara yang masih tersembunyi. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa warisan rasa bukan sekadar soal bahan dan teknik, tapi juga tentang cerita-cerita yang dibawanya.
Mungkin lain kali saat berkunjung ke Banjar, cobalah bertanya pada penjual kue tua di pasar: "Ini masih pakai resep nenek moyang, Bu?" Siapa tahu, dari situ kita dapat secuil kisah yang tak tertulis di buku mana pun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Pemerintah Kota Banjarmasin, Yayasan Warisan Banjar