Senin, 21 JULI 2025 • 09:00 WIB

Tarian Baksa Kembang yang Simbolkan Keanggunan Budaya Banjar dari Gerakannya

Author

Tarian Tradisional Kalimantan Selatan, Tari Baksa Kembang (Pinterest/Tina Nareswatie)

Tari Baksa Kembang merupakan salah satu tarian klasik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan, tepatnya dari budaya banjar.

Tarian ini tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi simbol keanggunan, keramahan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Banjar. Setiap gerakan dalam tarian ini sarat dengan makna filosofis, mencerminkan karakter lembut dan penghormatan terhadap tamu. 

Akar Sejarah dan Makna Kultural 
Tari Baksa Kembang memiliki akar sejarah yang kuat, bermula dari lingkungan keraton Banjar pada abad ke-15 dengan pengaruh Hindu-Buddha dan budaya Majapahit.

Baca juga:  Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar

 Meskipun Kesultanan Banjar kemudian membawa pengaruh Islam, tarian ini tetap bertahan melalui proses akulturasi yang harmonis. Salah satu kisah yang melatarbelakangi tarian ini adalah cerita tentang Putri Kahuripan yang mempersembahkan bunga teratai sebagai simbol kasih sayang dan kesucian. 

Awalnya, tarian ini hanya dipentaskan di istana untuk menyambut tamu agung. Namun, seiring waktu, Tari Baksa Kembang berkembang menjadi bagian dari acara publik seperti pernikahan dan festival budaya.

Proses pembakuan gerakan pada tahun 1990-an oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan memastikan orisinalitas tarian tetap terjaga, meski durasinya disesuaikan dengan konteks modern. 

Gerakan Tari Baksa Kembang dikenal lembut, luwes, dan anggun. Setiap gerakan terstruktur dengan jelas dalam tiga bagian, yaitu pembukaan, inti, dan penutup. Beberapa ragam gerakan kunci seperti Lagurih, Bintang Alin, dan Kijik tidak hanya indah secara visual tetapi juga mengandung presisi geometris.

Penelitian etnomatematika mengungkap bahwa gerakan-gerakan ini dapat dianalisis menggunakan konsep garis, sudut, rotasi, dan refleksi, menunjukkan keanggunan yang dibangun atas dasar pemahaman spasial yang mendalam. 

Misalnya, gerakan Kijik melibatkan rotasi 360 derajat dengan pola lantai segitiga sama kaki, sementara Bintang Alin menampilkan sudut lancip yang terbentuk oleh posisi tangan penari.

Hal ini membuktikan bahwa kelembutan gerakan Tari Baksa Kembang bukanlah sesuatu yang acak, melainkan hasil dari perencanaan yang cermat dan bernuansa artistik. 

Baca juga: Kuliner Unik Ini Hanya Ada di Kalimantan Selatan!

Estetika dan Simbolisme Properti 
Keindahan Tari Baksa Kembang tidak hanya terletak pada gerakannya, tetapi juga pada harmoni antara musik pengiring, kostum, dan properti.

Tarian ini diiringi oleh gamelan Banjar dengan lagu Ayakan dan Janklong, menciptakan kontras dinamis antara musik yang cepat dan gerakan yang lembut. 

Properti utama dalam tarian ini adalah kembang bogam, rangkaian bunga melati, mawar, dan kenanga yang dipersembahkan kepada tamu sebagai simbol penghormatan.

Kostum penari pun kaya akan ornamen tradisional seperti  kida-kida (penutup dada) dan mahkota pancar matahari, memperkuat kesan keanggunan dan kecantikan khas Banjar.

Sebagai warisan budaya, Tari Baksa Kembang perlu terus dilestarikan melalui edukasi, dokumentasi, dan promosi. Integrasi tarian ini ke dalam kurikulum sekolah serta pemanfaatan media digital dapat memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan di era modern. 

Baca juga: Keunikan dan Makna Mendalam Pernikahan Adat BanjarDanau Biru Pengaron di Kabupaten Banjar (Pinterest/JaLie ILMi)

Dengan gerakannya yang penuh makna dan estetika yang memukau, Tari Baksa Kembang bukan sekadar tarian, melainkan cerminan hidup dari keanggunan dan identitas budaya Banjar. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kompas.com, Jurnal PPJP ULM, Universitas Lambung Mangkurat

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU