Ilustrasi teknologi pengolahan sampai menjadi energi listrik. (AI Generated)
INDOZONE.ID - Gaya hidup modern tidak hanya berkaitan tentang kemudahan akses, tetapi juga tentang keberlanjutan.
Kota Banjarmasin kini melangkah lebih maju dalam mengadopsi gaya hidup green living dengan merintis transformasi sampah menjadi energi listrik, sebuah inovasi teknologi yang didukung penuh oleh DPRD Kota Banjarmasin.
Langkah futuristik ini dimulai melalui kerja sama strategis antara Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala.
Teknologi canggih Waste-to-Energy (WtE), yang kini menjadi trend global di kota-kota maju di dunia, akan segera hadir di Kalimantan Selatan. Wakil Ketua DPRD Banjarmasin, Harry Wijaya, menyambut hangat kolaborasi lintas daerah ini.
Baca juga: Strategi Indonesia Asri: Kolaborasi Menteri LH dan ULM dalam Inovasi Pengelolaan Sampah Mandiri
"Kami menyambut baik pertemuan tiga kepala daerah untuk koordinasi dan sinergi mewujudkan bersama program dari pemerintah pusat tersebut," ujarnya di Banjarmasin, Senin (6/4/2026).
Implementasi teknologi ini menempatkan kawasan Banjarmasin Raya sebagai lokasi pilot project nasional untuk transformasi sampah menjadi energi listrik, sebuah inisiatif yang digagas oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. Dukungan penuh pun diberikan oleh legislatif.
"Ini luar biasa kalau bisa diwujudkan, kita sangat mendukung, bahkan jika harus dibuatkan regulasinya," kata Harry.
Dengan volume sampah gabungan ketiga daerah yang hampir mencapai 678 ton per hari (dengan Banjarmasin menyumbang lebih dari 400 ton), penerapan teknologi modern merupakan solusi paling taktis dan berkelanjutan.
"Kalau bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi tenaga listrik dengan teknologi saat ini, tentunya luar biasa dan menjadi solusi untuk penanganan darurat sampah di Kota Banjarmasin," tuturnya.
Baca juga: Teknologi Pertama di Kalimantan Selatan: Dari Peleburan Logam Purba hingga Mesin Uap Oranje Nassau
Inovasi ini dinilai krusial, mengingat Banjarmasin terus berjuang mengelola sampah pasca penutupan TPAS Basirih. Meskipun memerlukan komitmen dan investasi besar, teknologi ini adalah masa depan pengelolaan lingkungan.
"Program ini salah satu inovasinya, meskipun tidak mudah mewujudkannya, sebab perlu tempat representatif dan biaya yang cukup besar, tapi jika tiga daerah komitmen bersatu, tentunya bisa cepat terwujud," ucap Harry.
Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR menyatakan kesiapan kota untuk menjadi barometer nasional dalam mempercepat tata kelola lingkungan dengan poros langkah menuju energi terbarukan berbasis sampah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara