Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 16:10 WIB

Dari Nilai Lokal ke Kepemimpinan Modern: Transformasi Baiman, Bauntung, Batuah dalam Tata Kelola Pemerintahan di Kalimantan Selatan

Dari Nilai Lokal ke Kepemimpinan Modern: Transformasi Baiman, Bauntung, Batuah dalam Tata Kelola Pemerintahan di Kalimantan SelatanSuku dayak dan Suku Banjar yang sedang menari bersama (Pinterest/Albertus Rico)

KALSEL - Kalimantan Selatan (Kalsel) menyimpan khazanah kearifan lokal yang kaya dan relevan, bahkan dalam konteks kepemimpinan modern. Di antara nilai-nilai yang hidup dalam budaya Banjar, tiga konsep menonjol: Baiman (beriman dan bermoral), Bauntung (bermanfaat dan beruntung), dan Batuah (bermartabat dan berkah). Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman hidup individu, tetapi telah bertransformasi menjadi kerangka etis bagi kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan di daerah ini.

Akar Budaya dan Makna yang Mendalam

Nilai-nilai ini berakar kuat dalam budaya dan religiusitas masyarakat Banjar. Baiman lebih dari sekadar ritual keagamaan; ia menuntut orientasi keputusan pada nilai keimanan dan tanggung jawab moral. Bauntung menekankan pentingnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sementara Batuah berkaitan dengan martabat dan keberkahan yang membuat seorang pemimpin dihormati dan legitimasinya diakui . Nilai-nilai ini ditransmisikan melalui berbagai saluran, seperti pendidikan keluarga, pesantren, ritual keagamaan, dan tradisi lisan seperti pantun dan nasihat orang tua.

Transformasi ke Ranah Kepemimpinan Modern

Transformasi nilai-nilai ini into praktik kepemimpinan modern terjadi melalui beberapa jalur:

Baca juga: Jejak Sejarah Amuntai: Dari Negara Dipa hingga Warisan Budaya yang Abadi

1. Pendidikan dan Etnopedagogi: Nilai-nilai ini diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter dan pelatihan birokrasi. Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan UIN Antasari telah mengembangkan model etnopedagogi yang merevitalisasi nilai-nilai lokal untuk pembinaan karakter dan kepemimpinan .

2. Branding Kebijakan dan Komunikasi Publik: Pemimpin daerah mengadopsi frasa "Baiman, Bauntung, Batuah" sebagai bagian dari visi, misi, dan tema pembangunan. Ini bukan hanya simbol, tetapi upaya untuk membangun legitimasi kultural dan menyelaraskan kebijakan dengan nilai-nilai lokal .

3. Integrasi dengan Nilai Kebangsaan: Nilai-nilai ini direinterpretasi agar selaras dengan prinsip Pancasila dan konsep kewarganegaraan yang inklusif. Studi oleh Sarbaini di Atlantis Press mengusulkan formalisasi nilai-nilai ini sebagai "Banua Ethno-Citizenship" yang memperkuat identitas kewargaan dan legitimasi program pemerintahan .

Baca juga: Universitas Favorit Pelajar Indonesia di Luar Negeri: Australia dan Malaysia Dominasi Daftar

Implikasi dan Manfaat bagi Tata Kelola Pemerintahan

Adopsi nilai-nilai ini dalam kepemimpinan modern membawa beberapa implikasi strategis:

  • Legitimasi Kultural: Kebijakan yang disampaikan dengan narasi budaya, terutama di komunitas Banjar.
  • Etika Birokrasi: Baiman dapat menjadi dasar integritas dan akuntabilitas dalam SOP birokrasi, sementara Bauntung mendorong orientasi pada manfaat publik.
  • Pengukuran Kinerja Adaptif: Bauntung memudahkan penetapan indikator kinerja pembangunan yang berfokus pada dampak sosial, sedangkan Batuah dapat menjadi indikator reputasi dan keberlanjutan program.

Tantangan dan Rekomendasi

Tantangan utama adalah menghindari ritualisasi kosong—ketika nilai hanya menjadi slogan tanpa implementasi nyata. Untuk itu, diperlukan:

Baca juga: Jejak Genetika Banjar: Dari Kalimantan Hingga Madagaskar

1. Operasionalisasi dalam Kebijakan: Menurunkan nilai-nilai ini into indikator kinerja konkret dalam RPJMD dan dokumen perencanaan lainnya.

2. Edukasi dan Pelatihan: Mengembangkan modul pelatihan berbasis etnopedagogi untuk aparatur sipil negara (ASN) yang menekankan integritas (Baiman) dan pelayanan yang berdampak (Bauntung).

3. Mekanisme Akuntabilitas: Membangun sistem pemantauan dan evaluasi yang mengukur sejauh mana kebijakan benar-benar "bermanfaat" dan "berkah" bagi masyarakat.

Baca juga: Kalimantan Selatan: Jejak Purba di Balik Kekayaan Batubara

Transformasi nilai Baiman, Bauntung, Batuah dari kearifan lokal menjadi landasan kepemimpinan modern di Kalsel adalah contoh nyata bagaimana budaya dapat menjadi sumber inovasi dan legitimasi dalam tata kelola pemerintahan.

Keberhasilan transformasi ini bergantung pada komitmen untuk mengoperasionalkan nilai-nilai ini into tindakan nyata, bukan sekadar retorika simbolik. Dengan demikian, khazanah budaya Banjar tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi penuntun menuju pemerintahan yang lebih etis, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BAIMAN BAUNTUNG DAN BATUAH Book. (2020). Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Dan Kebudayaan (P2KPK) LPPM ULM., Sarbaini. (2021/2022). BAIMAN, BAUNTUNG, BATUAH: The Moral Root Of 'Urang Banjar' For Banua Ethno Citizenship. Proceedings, Atlantis Press., Sarbaini. (2016). Rekonstruksi Nilai-Nilai Baiman, Bauntung, Batuah Milik Urang Banjar Perspektif Etnopedagogi. UIN Antasari Repository.

Tags
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dari Nilai Lokal ke Kepemimpinan Modern: Transformasi Baiman, Bauntung, Batuah dalam Tata Kelola Pemerintahan di Kalimantan Selatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!