Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 04:48 WIB

Nasib Kayu Ulin: Dari Primadona Konstruksi ke Material Langka Nan Berharga

Nasib Kayu Ulin: Dari Primadona Konstruksi ke Material Langka Nan BerhargaTaman Hutan Raya Sultan Adam (Pinterest/Sheila Landus)

KALSEL - Pernahkah Anda menyusuri pedalaman Kalimantan dan melihat megahnya rumah panggung tradisional yang masih kokoh berdiri puluhan tahun? Material utama yang menyangga keperkasaan struktur tersebut adalah kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), yang dikenal sebagai Bornean ironwood. 

Kayu ini dulu menjadi pilihan utama untuk konstruksi rumah, jembatan, dan dermaga. Namun, kini kehadirannya semakin langka. Apa yang menyebabkan pergeseran ini?

Keperkasaan yang Membuatnya Diminati

Kayu ulin bukanlah kayu biasa. Sifatnya yang sangat padat, keras, dan tahan lama menjadikannya primadona dalam dunia konstruksi, terutama di daerah tropis yang lembap. Heartwood-nya dilaporkan tahan terhadap pembusukan, serangan rayap, dan mampu bertahan di tanah atau air selama 50–100 tahun. Ini membuatnya ideal untuk tiang rumah panggung, pondasi, dan struktur yang menahan kelembapan.

Selain keunggulan teknis, ketersediaannya yang dulu melimpah secara lokal di hutan Kalimantan, Sumatra, dan wilayah Borneo lainnya membuat masyarakat mudah mengaksesnya. Budaya konstruksi lokal suku Dayak, Banjar, dan lainnya pun berkembang seiring dengan ketersediaan bahan baku alami ini.

Baca juga: Dari Kalsel untuk Indonesia: Tiga Atlet yang Mengharumkan Nama Daerah di Kancah Olahraga Nasional

Penyebab Penurunan Penggunaan: Kombinasi Faktor Kompleks

Popularitas kayu ulin tidak bertahan lama. Kombinasi faktor ekologis, ekonomi, dan regulasi menyebabkan penurunannya.

1. Overharvesting dan Regenerasi Lambat: 

    Penebangan berlebih selama beberapa dekade tanpa diimbangi regenerasi yang memadai membuat populasi pohon ulin menurun drastis. Ulin adalah spesies yang tumbuh sangat lambat (hanya 0,058 cm/tahun), membutuhkan waktu hingga 1.000 tahun untuk mencapai kematangan penuh. Ini membuat pasokan kayu besar untuk konstruksi semakin menipis.

2. Status Konservasi dan Regulasi Ketat: 

    Menyadari ancaman kepunahan, pemerintah Indonesia dan negara bagian Sarawak melarang ekspor kayu ulin. Spesies ini juga tercatat sebagai Vulnerable (Rentan) dalam IUCN Red List. Peraturan perdagangan kayu tropis dan sertifikasi yang ketat membuat pasokan kayu ulin legal menjadi sangat terbatas dan mahal.

3. Biaya Ekonomi dan Pergeseran Material: 

    Kelangkaan mendorong harga ulin melambung tinggi. Di sisi lain, material modern seperti beton, baja, dan kayu olahan (seperti engineered wood) menjadi lebih murah, mudah disuplai secara massal, dan memenuhi kode bangunan modern. Urbanisasi juga mendorong pergeseran praktik konstruksi ke arah yang lebih "modern" dan cepat.

Baca juga: Tiga Harta Karun Khas Kalimantan Selatan yang Mendunia namun Langka di Luar Negeri

4. Tantangan Teknis Pengolahan: 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Kaltimber Blog, Orami Magazine

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Nasib Kayu Ulin: Dari Primadona Konstruksi ke Material Langka Nan Berharga

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!