Gunung Halau-halau di ketinggian 1.901 MDPL (Youtube/Canro Sinarmata)
KALSEL – Di balik pesona Kalimantan Selatan yang kaya akan budaya dan alam, tersembunyi wilayah-wilayah yang diliputi misteri dan larangan. Tempat-tempat ini bukan sekadar tertutup secara hukum, tetapi dijaga ketat oleh keyakinan tradisional dan kisah-kisah mistis turun-temurun. Berikut adalah tiga wilayah terlarang yang memicu rasa penasaran sekaligus hormat.
Pertama adalah Kota Gaib Saranjana di Pulau Laut, Kotabaru. Lokasinya tidak akan Anda temukan di peta manapun. Dipercaya berada di sekitar Desa Oka-oka, kota ini dikisahkan sebagai peradaban maju yang dibangun oleh Sambu Ranjana, putra Raja Halimun.
Menurut legenda, kota ini sengaja dibuat gaib agar tidak menyatu dengan saudaranya yang menjelma menjadi Gunung Sebatung. Aksesnya mustahil bagi orang biasa, karena hanya mereka yang memiliki “indra keempat” yang dapat mempersepsikannya.
Masyarakat setempat menghormati dengan tidak menyebut namanya sembarangan dan menjauhi area tersebut, menjadikan Saranjana sebagai misteri abadi yang tak tersentuh.
Baca juga: Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif
Berbeda dengan Saranjana, Gunung Halau-Halau secara fisik sangat nyata. Sebagai puncak tertinggi di Kalsel (~1.901 mdpl) di Pegunungan Meratus, gunung ini justru terbuka untuk pendakian. Namun, yang membuatnya “terlarang” adalah lapisan aturan adat yang ketat.
Bagi Suku Dayak Meratus, gunung ini adalah tempat suci yang dihuni roh leluhur. Pendaki wajib meminta izin dari kepala adat, membawa sesaji, dan mematuhi segala pantangan, seperti tidak berteriak atau mengambil sesuatu dari hutan.
Pelanggaran diyakini akan berakibat pada kesialan atau tersesat secara mistis. Baru-baru ini, gunung bahkan sempat ditutup untuk ritual “Basambu Umang”, menunjukkan betapa kuasa adat masih sangat berlaku di sini.
Yang ketiga adalah Hutan Keramat Suku Dayak Pitap di sekitar Gunung Hauk, Kabupaten Balangan. Kawasan ini adalah hutan larangan yang dianggap sebagai “rumah para leluhur”. Eksploitasi di sini bukan hanya dilarang, tetapi dipercaya mendatangkan kutukan dan bencana.
Baca juga: Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan Alam
Kisah-kisah horor, seperti pekerja yang menjadi gila atau meninggal misterius usai menebang pohon pada 1986, masih hidup dan menjadi peringatan. Perlindungan kawasan ini murni berasal dari kewibawaan adat.
Perusahaan tambang pun dikabarkan enggan masuk karena takut akan “risiko” mistis yang mengintai. Akses untuk orang luar sangat dibatasi dan harus seizin tetua adat.
Ketiga wilayah ini mencerminkan harmonisasi yang unik antara dunia nyata dan alam gaib, antara konservasi alam dan kepercayaan tradisional. Mereka terlarang bukan tanpa alasan, tetapi untuk dilindungi dan dihormati.
Bagi para petualang, pesona mereka mungkin menggoda, tetapi memahami dan mematuhi larangan adat adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mongabay, ANTARA, Detik News