Masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai merasakan dampak kenaikan harga bahan pokok menjelang perayaan Tahun Baru 2026. Salah satu komoditas yang paling mencolok kenaikannya adalah cabai, dengan lonjakan mencapai 50 hingga 60 persen dibandingkan harga normal di berbagai pasar tradisional seperti Pasar Sentra Antasari Banjarmasin dan Pasar Bauntung Banjarbaru.
Kenaikan ini terpantau merata pada jenis cabai rawit lokal, cabai tiung, hingga cabai merah besar. Jika sebelumnya harga cabai rawit berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, kini harganya menembus angka Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang saling berkaitan di akhir tahun.
Faktor Cuaca dan Gagal Panen
Penyebab utama yang diidentifikasi oleh Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel adalah intensitas hujan yang sangat tinggi di bulan Desember. Cuaca ekstrem ini menyebabkan banyak petani di daerah sentra produksi, baik lokal maupun di Pulau Jawa, mengalami gagal panen. Tingginya kelembapan udara membuat tanaman cabai rentan terserang hama dan penyakit busuk batang, sehingga pasokan yang masuk ke pasar jauh berkurang dari biasanya.
Kendala Distribusi Antarpulau
Selain faktor produksi, gangguan pada rantai pasok juga menjadi pemicu. Kalsel masih sangat bergantung pada pasokan cabai dari luar daerah, terutama dari Sulawesi dan Jawa. Gelombang tinggi di perairan laut selama musim hujan seringkali menghambat jadwal pelayaran kapal pengangkut logistik. Akibatnya, stok di tingkat distributor menipis sementara permintaan dari konsumen meningkat tajam menjelang malam pergantian tahun.
Tingginya Permintaan Konsumen
Siklus tahunan berupa meningkatnya konsumsi rumah tangga dan industri kuliner untuk keperluan pesta akhir tahun turut memberi tekanan pada harga. Dinas Ketahanan Pangan Kalsel pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying) yang justru dapat memperparah inflasi daerah. Pemerintah provinsi kini sedang mengupayakan operasi pasar murah guna menstabilkan harga hingga awal Januari 2026 mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: