Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kini tengah berada di titik balik strategis dalam pengelolaan kekayaan alamnya. Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, secara tegas menginstruksikan penguatan sektor hilirisasi sumber daya alam, dengan fokus utama pada komoditas batubara. Langkah ambisius ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai mesin penggerak utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 8,1 persen.
Dalam High Level Meeting (HLM) Transformasi Ekonomi yang digelar di Banjarmasin pada Rabu, 29 April 2026, Gubernur menekankan bahwa paradigma lama dalam menjual "emas hitam" harus segera bergeser. Selama puluhan tahun, batubara dari tanah Borneo didominasi oleh penjualan dalam bentuk mentah ke pasar global. Namun, untuk mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan, Kalsel harus mulai memetik nilai tambah dari pengolahan produk di dalam daerah.
Menilik Potensi Batubara Menjadi Pupuk dan Energi Baru
Salah satu terobosan menarik yang mencuat dalam diskusi strategis tersebut adalah potensi pengolahan batubara menjadi pupuk. Berkolaborasi dengan para akademisi dan peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tengah mengkaji kelayakan teknis dan ekonomi dari inovasi ini. Jika terealisasi, batubara tidak lagi sekadar menjadi bahan bakar pembangkit listrik, tetapi bertransformasi menjadi produk pendukung sektor pertanian yang krusial bagi ketahanan pangan.
Gubernur Muhidin menginginkan keputusan yang diambil nantinya berbasis pada data yang presisi. Beliau meminta seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menghitung secara matang perbandingan keuntungan antara penjualan mentah dengan hasil hilirisasi. Fokusnya mencakup aspek keekonomian, daya serap pasar, hingga dampak sosial bagi masyarakat lokal. Hal ini bertujuan agar kebijakan yang dihasilkan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga realistis bagi para pelaku usaha di lapangan.
Inovasi Lingkungan: Dari Batuan Hingga Air Bersih
Selain fokus pada nilai tambah ekonomi, transformasi yang diusung oleh Gubernur Muhidin juga menyentuh aspek keberlanjutan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dalam forum yang sama, dipaparkan hasil penelitian mengenai pemanfaatan material batuan tertentu untuk teknologi penjernihan air.
Inovasi ini dinilai sangat relevan bagi wilayah Kalimantan Selatan yang di beberapa titik masih menghadapi tantangan ketersediaan air bersih. Pemanfaatan batuan untuk mengubah air yang tidak layak menjadi layak konsumsi menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Kalsel dijalankan beriringan dengan inovasi teknologi terapan. Gubernur menyatakan komitmennya untuk mendalami potensi ini agar dapat diimplementasikan demi kesejahteraan warga Banua.
Sinergi Lintas Sektor untuk Pertumbuhan 8,1 Persen
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Sekretaris Daerah, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalsel, serta jajaran dari Ditjen Perbendaharaan dan BPKP Kalsel menegaskan bahwa agenda ini adalah kerja kolektif. Transformasi ekonomi menuju angka 8,1 persen memerlukan ekosistem yang mendukung, mulai dari kemudahan investasi hingga pengawasan tata kelola yang bersih.
Dengan mengedepankan riset dari kalangan akademisi dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, Kalimantan Selatan optimis mampu mengubah ketergantungan pada komoditas mentah menjadi kekuatan ekonomi berbasis nilai tambah. Hilirisasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan komitmen nyata Gubernur Muhidin untuk membawa Kalimantan Selatan menuju era ekonomi baru yang lebih tangguh dan inovatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel