Sabtu, 11 JULI 2026 • 21:27 WIB

Transformasi Asrama Haji Banjarmasin: Dari Pusat Layanan Umrah hingga Sumber Penerimaan Negara

Author

Transformasi Asrama Haji Banjarmasin: Dari Pusat Layanan Umrah hingga Sumber Penerimaan Negara (mckalsel)

Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kualitas fasilitas keagamaan sekaligus memastikan pengelolaan aset negara berjalan secara produktif. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, yang secara resmi meresmikan Gedung SBSN 2025 Asrama Haji Kelas I Banjarmasin. Prosesi peresmian ini berlangsung di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, Banjarbaru, pada Jumat (10/7/2026).

Dalam sambutannya, Irfan Yusuf menekankan visi baru pemerintah dalam memandang fasilitas keagamaan. Ia menegaskan bahwa asrama haji tidak boleh lagi sekadar berfungsi sebagai tempat transit musiman bagi jamaah. Lebih dari itu, seluruh aset yang ada harus dioptimalkan agar mampu memberikan kontribusi nyata dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi negara.

Tantangan Pengelolaan dan Warisan Aset di Seluruh Indonesia
Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 30 asrama haji yang tersebar di berbagai wilayah. Namun, dari total jumlah tersebut, baru sekitar 16 lokasi yang aktif berfungsi sebagai embarkasi pemberangkatan jamaah. Kesenjangan angka ini menjadi perhatian serius kementerian untuk menyelaraskan pembangunan fisik dengan sistem tata kelola yang profesional.

Menteri Haji dan Umrah mengakui bahwa pemerintah mewarisi berbagai aset dengan kondisi yang sangat beragam. Beberapa fasilitas sudah berdiri kokoh dengan standar modern, sebagian lainnya masih memerlukan penyempurnaan di sana-sini, dan ada pula bangunan yang sudah berusia cukup tua. Kondisi heterogen ini disadari sebagai tantangan besar yang harus diselesaikan.

“Membangun itu bukan hal yang mudah, tetapi merawat dan memaksimalkan penggunaannya jauh lebih sulit. Karena itu saya berharap Asrama Haji Banjarmasin ini benar-benar dimanfaatkan secara maksimal sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Irfan Yusuf.

Mengubah Pusat Anggaran Menjadi Sumber Penerimaan Negara
Irfan Yusuf juga memberikan kritik membangun terkait adanya sejumlah bangunan pendukung asrama haji di beberapa daerah yang saat ini masih idle atau belum termanfaatkan secara optimal. Beliau mengingatkan bahwa seluruh infrastruktur tersebut dibangun menggunakan dana masyarakat, sehingga ada tanggung jawab moral dan hukum untuk mengelolanya secara efektif dan produktif.

Pemerintah menargetkan perubahan paradigma dalam pengelolaan fasilitas ini. Ke depan, asrama haji diharapkan tidak lagi menjadi pusat pengeluaran anggaran (cost center) yang terus membebani APBN. Sebaliknya, melalui manajemen yang profesional dan skema pemanfaatan yang kreatif, fasilitas-fasilitas ini diarahkan untuk bertransformasi menjadi sumber penerimaan negara yang mandiri.

Menjadi Hub Pelayanan Terpadu Jamaah Umrah
Sebagai langkah konkret optimalisasi, Asrama Haji Banjarmasin didorong untuk memperluas fungsi layanannya. Selain melayani operasional ibadah haji tahunan, fasilitas ini diproyeksikan untuk menjadi pusat pelayanan atau service hub bagi jamaah umrah. Dengan tingginya antusiasme masyarakat Kalimantan Selatan untuk beribadah umrah sepanjang tahun, keberadaan service hub ini dinilai sangat strategis.

Melalui skema ini, jamaah umrah dapat menikmati berbagai fasilitas terpadu sebelum diberangkatkan menuju Tanah Suci. Pola integrasi ini diharapkan dapat memberikan rasa aman, kenyamanan lebih, sekaligus memastikan standardisasi pelayanan yang merata bagi seluruh jemaah sebelum terbang.

Inovasi Embarkasi Tanpa Asrama Haji
Di sisi lain, Menteri Haji dan Umrah juga membagikan cerita sukses inovasi penyelenggaraan ibadah haji di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun ini, DIY berhasil memberangkatkan jamaah haji langsung melalui bandara internasional setempat tanpa harus transit di asrama haji khusus.

Keberhasilan di Yogyakarta ini membuktikan bahwa efisiensi birokrasi dan logistik sangat mungkin dilakukan. Pola alternatif ini dapat diadopsi oleh wilayah lain di Indonesia, dengan catatan daerah tersebut memenuhi kriteria ketat terkait kelayakan infrastruktur bandara serta jumlah kuota jamaah yang memadai.

Melalui peresmian Gedung SBSN 2025 Asrama Haji Kelas I Banjarmasin ini, pemerintah meletakkan batu pijakan penting. Langkah ini menjadi momentum awal untuk memperkuat kualitas pelayanan keagamaan di Kalimantan Selatan, sekaligus menjadi percontohan nasional dalam hal pengelolaan aset negara yang lebih produktif, akuntabel, dan berorientasi penuh pada pelayanan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU