Bagi masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan, datangnya bulan Muharram dalam kalender Hijriah selalu disambut dengan penuh khidmat dan suka cita. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Pada hari bersejarah ini, ada satu tradisi kuliner sekaligus spiritual yang tidak pernah ditinggalkan dari generasi ke generasi, yaitu memasak dan membagikan Bubur Asyura khas Banjar.
Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memasak biasa, melainkan sebuah refleksi dari nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang mendalam.
Asal-Usul dan Makna Spiritual
Secara historis, tradisi membuat bubur ini dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS. Konon, setelah bahtera Nabi Nuh berlabuh pasca-air bah yang dahsyat, persediaan makanan yang tersisa sangat terbatas. Nabi Nuh kemudian meminta umatnya untuk mengumpulkan apa saja bahan makanan yang tersisa—mulai dari biji-bijian hingga kacang-kacangan—lalu memasaknya menjadi satu wadah besar berupa bubur agar semua orang bisa makan secara merata.
Masyarakat Banjar menyerap filosofi ini sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dan keberkahan. Mengonsumsi dan membagikan bubur ini di hari Asyura dipandang sebagai amalan sosial yang mendatangkan pahala dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Keunikan 41 Bahan: Ciri Khas Bubur Asyura Banjar
Salah satu hal paling unik yang membedakan Bubur Asyura khas Banjar dengan daerah lain di Indonesia adalah jumlah bahannya. Secara tradisi, bubur ini idealnya dibuat dari 41 jenis bahan yang berbeda. Angka 41 ini sudah menjadi pakem turun-temurun, meski dalam praktiknya tidak menjadi kewajiban mutlak jika bahan sulit ditemukan.
Bahan-bahan tersebut terdiri dari campuran beras, umbi-umbian (seperti singkong, ubi jalar, dan talas), kacang-kacangan (kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai), serta aneka sayuran hijau (kangkung, pucuk labu, jagung, wortel). Tidak ketinggalan, bumbu khas bumbu habang atau rempah-rempah khas Banjar seperti kapulaga, kas kas, dan pala juga dimasukkan untuk memperkaya cita rasa. Beberapa warga juga menambahkan potongan daging sapi atau ayam untuk menambah kelezatan.
Semua bahan ini dimasak bersama di dalam kawah atau wajan berukuran raksasa. Proses mengaduknya memerlukan tenaga ekstra dan waktu berjam-jam hingga seluruh bahan menyatu menjadi bubur yang kental dan gurih.
Semangat Gotong Royong dalam "Aruh" Memasak
Proses pembuatan Bubur Asyura Banjar biasanya dilakukan secara gotong royong (baimbai) di pekarangan masjid, langgar, atau area terbuka di kampung. Sejak pagi hari, kaum pria bertugas menyiapkan kayu bakar, menyalakan api, dan mengaduk bubur di kawah besar. Sementara kaum wanita sibuk memotong sayur, mengupas umbi-umbian, dan meracik bumbu.
Suasana kebersamaan ini memancarkan kehangatan sosial yang luar biasa. Anak-anak hingga lansia berkumpul menyaksikan prosesi ini. Setelah bubur matang menjelang waktu ashar atau mendekati waktu berbuka puasa sunah Asyura, bubur akan dibagikan secara gratis kepada seluruh warga kampung, musafir, dan jemaah masjid.
Tradisi Bubur Asyura khas Banjar adalah bukti nyata bagaimana kuliner mampu menjadi jembatan spiritual dan perekat sosial. Di tengah modernisasi, warisan leluhur Kalimantan Selatan ini tetap lestari karena esensinya yang mengajarkan kita untuk saling berbagi dan mensyukuri sekecil apa pun nikmat yang kita miliki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber