Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 17:01 WIB

Vertical Farming: Solusi Revolusioner Pertanian di Lahan Sempit Perkotaan Indonesia

Author

Konsep Vertikal Farming di Rumah (Pinterest/Plant Nurtured)

KALSEL - Bayangkan memanen sayuran segar dan organik langsung dari jantung kota, tepatnya dari atap gedung, balkon apartemen, atau sebuah kontainer di sudut jalan. Ini bukan adegan fiksi ilmiah, melainkan realitas yang dibawa oleh vertical farming—sebuah terobosan dalam bercocok tanam yang menjawab tantangan lahan sempit di perkotaan.

Vertical farming adalah praktik bercocok tanam dalam lapisan bertingkat secara vertikal dalam lingkungan yang terkendali. Sistem ini memanfaatkan teknik seperti hidroponik, aeroponik, atau aquaponik, yang tidak memerlukan tanah dan sangat efisien dalam penggunaan air serta ruang. Konsep ini bukan hanya visioner, tetapi telah teruji secara global dan mulai berkembang di Indonesia.

Mengapa Vertical Farming Cocok untuk Kota-Kota di Indonesia?

Kawasan perkotaan Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, menghadapi tekanan demografis dan alih fungsi lahan yang masif. Vertical farming menawarkan solusi dengan beberapa keunggulan utama:

Baca juga: Ada Potensi Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kabupaten Serang

1. Efisiensi Ruang yang Maksimal: Dengan sistem rak bertingkat, luas lahan yang dibutuhkan menjadi sangat minimal. Sebuah studi yang mengacu pada FAO menyoroti potensi sistem ini dalam meningkatkan produksi pangan per meter persegi secara signifikan, cocok untuk diterapkan di atap, balkon, atau ruang kosong.

2. Penghematan Air yang Signifikan: Teknologi sirkulasi tertutup pada sistem hidroponik dan aeroponik dapat menghemat penggunaan air hingga 90% lebih banyak dibandingkan pertanian konvensional. Ini adalah nilai yang crucial di daerah yang mungkin rawan kekurangan air.

3. Produksi Sepanjang Tahun: Dalam lingkungan terkontrol, tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem dan hama. Hasilnya, panen dapat berlangsung sepanjang tahun dengan kualitas yang lebih konsisten, higienis, dan bebas pestisida.

Baca juga: Kalsel Menjadi Gerbang Logistik IKN: Peluang Emas Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Tantangan dan Jalan Ke Depan

Meski menjanjikan, adopso vertical farming bukan tanpa halangan. Artikel review di ScienceDirect mengungkap bahwa konsumsi energi dari pencahayaan LED dan sistem pengatur iklim (HVAC) menjadi tantangan terbesar yang dapat meningkatkan biaya operasional dan jejak karbon. Oleh karena itu, integrasi dengan panel surya atau sumber energi terbarukan lainnya mutlak diperlukan.

Selain itu, modal awal yang tinggi dan kebutuhan akan pengetahuan teknis spesifik menjadi penghambat. Di sinilah peran pemerintah dan institusi pendidikan sangat vital. Pengalaman dari IPB menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan pelatihan teknis dapat menjadi kunci sukses adopsi teknologi ini secara lokal.

Pilot project skala kecil dengan komoditas bernilai tinggi seperti selada, kangkung, atau basil dapat menjadi langkah awal yang feasible sebelum berpikir untuk men-scale-up.

Baca juga: Dari Nilai Lokal ke Kepemimpinan Modern: Transformasi Baiman, Bauntung, Batuah dalam Tata Kelola Pemerintahan di Kalimantan Selatan

Vertical farming bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah pilihan strategis untuk membangun ketahanan pangan perkotaan yang berkelanjutan.

Dengan memitigasi tantangan energi melalui inovasi dan dukungan kebijakan yang tepat, model pertanian urban ini dapat mentransformasi rooftop dan lahan tidur menjadi “ladang-ladang masa depan” yang produktif. Bagi kota-kota Indonesia yang padat, vertical farming adalah jawaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga necessary.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: FAO, Kozai, T., Et Al., IPB

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU