Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 17:20 WIB

Konsumsi Gula dan Garam Berlebih di Kalsel: Darurat Kesehatan yang Terabaikan

Author

Sendok gula yang di ambil (Pinterest/Cigna Indonesia)

KALSEL  Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menghadapi beban ganda dalam pola konsumsi pangan: tingginya asupan gula dan garam yang telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat. Data terkini mengungkap bagaimana kebiasaan konsumsi ini berkontribusi pada lonjakan penyakit tidak menular di provinsi ini.

Fakta Konsumsi Gula dan Garam yang Mengkhawatirkan

Masyarakat Kalsel dikenal sebagai konsumen gula tertinggi di Indonesia. Konsumsi gula pasir masyarakat Kalsel mencapai 1,35 kilogram per orang per bulan, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 1 kilogram per orang per bulan . Bahkan, kebutuhan gula Kalsel dapat mencapai 12.000 ton per bulan, meski dalam setahun terakhir turun hingga 50% menjadi 6.000 ton per bulan akibat menurunnya daya beli masyarakat .

Sementara untuk garam, meski tidak memiliki data konsumsi spesifik, risiko kesehatan akibat konsumsi berlebihan tampak dalam tingginya prevalensi hipertensi. Riskesdas 2018 mencatat Kalsel sebagai salah satu provinsi dengan prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Resep Klepon, Jajanan Tradisional Manis dengan Isian Gula Merah

Studi lokal di wilayah kerja Puskesmas Martapura 2 (Kabupaten Banjar) menemukan bahwa 52,5% wanita penderita hipertensi memiliki asupan natrium berlebih, disertai asupan serat rendah (69,5%) dan obesitas (32%) .

Akar Masalah: Budaya, Ekonomi, dan Perilaku

Budaya kuliner masyarakat Kalsel yang menyukai rasa manis dan gurih menjadi pendorong utama tingginya konsumsi gula dan garam. Banyak makanan dan minuman tradisional yang menggunakan gula atau pemanis dalam jumlah besar . Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan olahan, sambal kemasan, dan street food menyumbang "garam tersembunyi" yang tidak disadari masyarakat.

Faktor ekonomi juga berperan. Fluktuasi harga dan pasokan gula dipantau ketat oleh pemerintah daerah karena komoditas ini menjadi penyebab inflasi kedua di Kalsel jika terjadi kelangkaan . Ketergantungan pada pasokan dari luar pulau juga membuat distribusi rentan terhadap gangguan.

Baca juga: Resep Kue Bingka Gula Merah Khas Banjarmasin yang Lembut dan Manis

Dampak Kesehatan yang Tidak Ringan

Konsumsi gula dan garam berlebihan telah menyebabkan peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit kardiovaskular . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tidak lebih dari 30 gram (7 sendok teh) per hari untuk dewasa, dan garam maksimal 6 gram (1 sendok teh) per hari . Namun, pola konsumsi masyarakat Kalsel jelas melampaui batas aman tersebut.

Anak-anak juga menjadi korban dari pola konsumsi ini. Kebiasaan jajan makanan tinggi gula dan garam meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, kerusakan gigi, hipertensi, dan gangguan ginjal pada anak.

Upaya dan Rekomendasi

Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Dinas Kesehatan telah menempatkan faktor diet sebagai prioritas program pencegahan PTM. Beberapa upaya yang dilakukan termasuk promosi pola makan sehat, kampanye pengurangan garam dan gula, serta deteksi dini .

Baca juga: 5 Buah Rendah Gula yang Aman buat Penderita Diabetes

Untuk intervensi yang lebih efektif, diperlukan:

1. Kampanye "kurangi garam saat memasak" dan reformulasi bumbu lokal

2. Pembatasan porsi minuman manis dan promosi alternatif sehat

3. Peningkatan akses buah dan sayur untuk mengatasi rendahnya asupan serat

4. Monitoring asupan natrium dan gula secara berkala

5. Intervensi klinis terintegrasi di puskesmas untuk skrining dan konseling gizi

Perlu komitmen bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan industri makanan untuk mengatasi masalah kesehatan ini secara menyeluruh. Dengan perubahan pola konsumsi yang lebih sehat, beban penyakit tidak menular di Kalsel dapat dikurangi secara signifikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel, Alodokter

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU