Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 06:22 WIB

Kearifan Lokal di Layar Kaca: 3 Film Inspiratif yang Merefleksikan Perjuangan dan Kehidupan Masyarakat Kalsel

Author

Film The Mirror Never Lies atau Laut Bercermin (Wikipedia)

KALSELDi balik gemerlap industri film nasional, terselip karya-karya membumi yang bercerita tentang denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan (Kalsel). Tiga film—Bara, Imaji Tanah Leluhur, dan Laut Bercermin—menjadi cermin jujur yang merefleksikan pergulatan, kearifan, dan napas kehidupan masyarakat Kalsel yang begitu dekat dengan alam.

Bara (The Flame): Api Perjuangan Seorang Bapak dari Hutan Kalimantan

Bara (2021) bukan sekadar dokumenter, melainkan potret perjuangan heroik Iber Djamal (77 tahun), sesepuh Dayak, yang gigih mempertahankan hutan adatnya dari gempuran proyek sawit dan tambang. Sutradara Arfan Sabran mengangkat konflik agraria ini dengan pendekatan personal yang intim, melalui dinamika keluarga Pak Iber. Anak-cucunya mengusulkan kompromi, tetapi sang patriark memilih jalur hukum. 

Film yang diproduseri Gita Fara dan didukung Yayasan Dian Sastrowardoyo ini telah diakui di festival internasional. Ia menjadi alat edukasi efektif yang menggambarkan langsung tekanan deforestasi dan keteguhan nilai keluarga Dayak—nilai yang juga hidup dalam masyarakat Kalsel yang berhadapan dengan industri ekstraktif.

Baca juga: 'Sukma’ Tembus 1 Juta Penonton, Baim Wong Bangga Film Garapannya Bisa Bersaing dengan yang Lain

Imaji Tanah Leluhur: Suara Perempuan Dayak Pitap dari Kaki Meratus

Berbeda dari Bara, Imaji Tanah Leluhur (2024) adalah dokumenter pendek kolaborasi WALHI Kalsel dan Greenpeace yang fokus pada perlawanan komunitas Dayak Pitap di Balangan, Kalsel. Yang istimewa, film ini menyoroti perspektif perempuan adat dalam mempertahankan wilayah dan tradisi mereka melancong industri tambang dan HPH. Film ini secara gamblang menunjukkan bagaimana ritual dan solidaritas komunitas menjadi tameng dari ancaman eksternal.

Seperti yang disampaikan sutradara Rifky Muhammad, film ini ingin menunjukkan bahwa Meratus bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga manusia dan kearifannya. *Imaji* adalah suara lokal Kalsel yang paling nyata, sebuah dokumentasi penting dari perlawanan yang terjadi di pegunungannya sendiri.

Laut Bercermin: Refleksi Kehidupan Pesisir yang Beresonansi dengan Nelayan Kalsel

Meski berlatar suku Bajo di Wakatobi, Laut Bercermin (2011) karya Kamila Andini menyentuh tema universal kehidupan masyarakat pesisir yang juga dialami nelayan Banjar di Kalsel. Film drama ini mengisahkan Pakis (12 tahun) yang mencari ayahnya yang hilang di laut dengan percaya pada kekuatan magis sebuah cermin. 

Baca juga: Mengungkap Rahasia Budaya Tak Tertulis: Kekuatan Tersembunyi yang Menggerakkan Organisasi

Film ini dengan puitis menggambarkan ketergantungan masyarakat pada laut, tradisi lokal, serta pergumulan ekonomi dan pendidikan di daerah terpencil—mirip dengan realita di banyak desa pesisir dan sungai di Kalsel. Laut dan sungai adalah nadi kehidupan, dan film ini adalah refleksi dari jiwa masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Cermin Diri bagi Masyarakat Kalsel

Ketiga film ini, meski dengan genre dan latar berbeda, menyajikan narasi yang sama: perlawanan terhadap ketidakadilan lingkungan, kekuatan kearifan lokal, dan ketangguhan unit keluarga. Mereka adalah lebih dari sekadar tontonan; mereka adalah pengingat, edukator, dan penggerak. Bagi masyarakat Kalsel, menonton Bara, Imaji Tanah Leluhur, dan Laut Bercermin ibarat melihat cermin—mereka melihat potret diri, perjuangan, dan warisan budaya mereka sendiri yang harus terus dijaga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: WALHI, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (2021)., Wawancara Dan Press Kit Sutradara Kamila Andini Untuk Film *Laut Bercermin* (2011).

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU