Minggu, 14 SEPTEMBER 2025 • 09:00 WIB

Pegunungan Meratus: Pelindung Alami Tanah Kalimantan

Author

Ilustrasi Pegunungan Meratus (Dok. AI)

KALSELPegunungan Meratus, yang membentang sepanjang 600 km² dari tenggara ke utara Kalimantan Selatan, sering dianggap sebagai pelindung alami bagi wilayah di sekitarnya. 

Namun, benarkah pegunungan ini mampu mencegah kabupaten/kota di Kalsel dari tenggelam meskipun berada di bawah permukaan laut? Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Fakta Elevasi dan Kerentanan Banjir

Beberapa wilayah di Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin, memiliki elevasi sangat rendah—bahkan sebagian area perkotaannya berada sekitar 0,16 meter di bawah permukaan laut. Kondisi ini membuat daerah tersebut rentan terhadap banjir pasang (tidal flooding) dan limpasan sungai. 

Baca juga: Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif

Pegunungan Meratus, dengan puncak tertinggi mencapai 1.901 mdpl, memang berperan sebagai tulang punggung topografis yang membelah Kalsel menjadi dua bagian. Namun, perannya bukanlah sebagai "penangkal" permanen terhadap genangan air, melainkan sebagai pengatur pola aliran air.

Peran Hidrologi dan Pengaruh Cuaca

Meratus berfungsi sebagai pembagi drainase alami, mengarahkan aliran sungai ke dataran rendah barat dan timur. Saat hujan ekstrem terjadi di kawasan pegunungan, air mengalir deras ke sungai-sungai seperti Barito dan Batang Alai, memperbesar volume air yang menuju dataran rendah. 

Namun, ketika pasang laut terjadi, air dari muara terdorong masuk, menghambat pembuangan air sungai ke laut. Kombinasi ini—limpasan dari hulu dan pasang laut—justru memicu banjir besar, seperti yang terjadi pada Januari dan November 2021 .

Dampak Aktivitas Manusia dan Perubahan Lahan

Faktor antropogenik turut memperparah kerentanan banjir. Penambangan batu bara di kawasan Meratus (seperti yang diusulkan PT Mantimin Coal Mining) mengancam keseimbangan ekosistem, sementara alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit mengurangi kemampuan tanah menyerap air. 

Baca juga: Danau-danau Estetik di Kalimantan Selatan: Surga Tersembunyi untuk Spot Foto Ikonik

Masyarakat adat Dayak Meratus, yang telah lama menjaga kelestarian hutan melalui kearifan lokal, juga terancam oleh rencana penetapan Taman Nasional yang berpotensi meminggirkan hak mereka .

Infrastruktur dan Konservasi: Kunci Keberlanjutan

Keberadaan tanggul alami (natural levees) dari sedimentasi sungai serta infrastruktur buatan seperti bendungan (contohnya Bendungan Pancur Hanau) membantu mengendalikan banjir. 

Namun, solusi jangka panjang memerlukan pendekatan holistik: restorasi lahan gambut, pengendalian ekstraksi air tanah, dan pengakuan terhadap hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. 

Tanpa ini, wilayah rendah Kalsel akan semakin rentan terhadap penenggelaman.

Baca juga: Menyusuri Pulau Kaget: Surga Tersembunyi bagi Bekantan di Tengah Sungai Barito

Pegunungan Meratus memainkan peran penting dalam dinamika hidrologi Kalsel, tetapi ia bukanlah pelindung pasif yang mencegah tenggelamnya wilayah rendah. Justru, keberlangsungan daerah ini bergantung pada elevasi lokal, pengelolaan air, dan kebijakan konservasi yang berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Preprint 2022, Universitas Groningen, BMKG

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU