Jumat, 15 AGUSTUS 2025 • 11:00 WIB

Dari Rawa ke Dunia: 3 Inovasi Purun Kalsel yang Mendunia dan Ramah Lingkungan

Author

karya buatan tangan, Tas Purun (Pinterest/Borneoethnic)

KALSEL – Di tengah gencarnya kampanye pengurangan sampah plastik, generasi muda Kalimantan Selatan (Kalsel) membuktikan bahwa kearifan lokal bisa jadi solusi global. Purun—tanaman rawa khas Banua—disulap menjadi beragam produk kerajinan bernilai tinggi, dari tas hingga sedotan, yang tak hanya diminati di dalam negeri tetapi juga menembus pasar Eropa dan Asia. Berikut tiga karya inovatif anak Kalsel yang mengubah purun dari sekadar tanaman liar menjadi primadona ekspor. 

1. Tas Anyaman Purun: Fesyen Ramah Lingkungan yang Mendunia  

Tas anyaman purun karya pengrajin muda Kalsel telah menjadi bukti nyata bahwa produk tradisional bisa bersaing di pasar global. Dengan desain yang terus diperbarui mengikuti tren fesyen, tas ini berhasil menarik perhatian buyer dari Asia dan Eropa. Keunggulannya tak hanya pada motif anyaman yang unik, tetapi juga sifatnya yang biodegradable dan tahan lama.  

Kelompok UKM yang didominasi pemuda usia 18–25 tahun ini mengolah purun melalui proses tradisional, mulai dari pengumpulan di rawa, penjemuran, hingga anyaman tangan. Hasilnya? Produk yang tak hanya ramah lingkungan tetapi juga memberdayakan ekonomi desa. Bahkan, Pemerintah Kota Banjarmasin menjadikan tas purun sebagai alternatif resmi pengganti kantong plastik di ritel modern .  

Baca juga: Festival Budaya Jepang Bakal Digelar di Kota Tua Jakarta, Catat Jadwalnya!

2. Sedotan Purun "Kembang Ilung": Solusi Sampah Plastik yang Menembus Eropa  

Berawal dari keprihatinan akan sampah sedotan plastik, Supiannor, pemuda asal Amuntai Selatan, menggagas sedotan purun melalui kelompok "Kembang Ilung". Sedotan ini terbuat dari serat purun yang diolah secara alami, sehingga mudah terurai dan aman bagi lingkungan.  

Tak disangka, produk ini lolos seleksi ketat dan dipamerkan di bursa kerajinan internasional. Kini, "Kembang Ilung" mengekspor ratusan ribu sedotan per tahun ke Eropa dengan pertumbuhan omset 20% tiap tahun. "Ini bukti bahwa produk lokal bisa bersaing di pasar global asal punya nilai inovasi dan keberlanjutan," ujar Supiannor dalam salah satu wawancara .  

3. Anyaman Purun Batola di Panggung Oslo  

Pada 2018, dunia menyaksikan keindahan anyaman purun Kalsel di Oslo, Norwegia. Kelompok pengrajin muda dari Barito Kuala (Batola)—yang banyak diisi pelajar dan mahasiswa—membawa produk seperti tas, tatakan gelas, dan hiasan dinding ke pameran kerajinan internasional.  

Baca juga: Aksesoris Orang Banjar yang Siap Mencuri Perhatian di Fashion Show

Partisipasi ini bukan sekadar pameran, tetapi juga membuka pintu kerja sama dengan galeri-galeri di Eropa Utara. Buyer dari Norwegia, Swedia, dan Belanda tertarik dengan keunikan anyaman purun yang memadukan seni tradisional dengan fungsi modern. "Ini momentum bagi kami untuk memperkenalkan identitas Kalsel ke dunia," kata salah satu perajin .  

Ketiga inovasi ini menunjukkan bahwa purun bukan lagi sekadar tanaman pinggiran, melainkan bahan baku berkelas dunia yang mengusung nilai ekologis dan ekonomi. Dukungan pemerintah, seperti pelatihan ekspor oleh Dinas Perindustrian Kalsel , serta kolaborasi dengan komunitas lokal , menjadi kunci keberhasilan produk purun di kancah global.  

Dari rawa-rawa Kalimantan, purun kini menembus pasar internasional—membuktikan bahwa solusi lingkungan bisa datang dari kearifan lokal dan semangat generasi muda.  

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News, Diskominfo Kalsel, Pantau Gambut

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU