Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 09:00 WIB

Penulis Asal Kalsel yang Mengukir Sejarah Melalui Karya-Karya Monumental

Author

Seseorang mengambil sebuah buku diantara rak buku (Pinterest/Jenna)

KALSEL Kalimantan Selatan (Kalsel) melahirkan tokoh-tokoh sastra dan seni yang karyanya menjadi warisan budaya. Dari teater modern hingga puisi kontemporer, para penulis asal Kalsel telah menorehkan pengaruh besar dalam dunia sastra Indonesia. Berikut tiga sosok penting yang karyanya masih dikenang hingga kini. 

H. Adjim Arijadi: Sang Maestro Teater Banjar

H. Adjim Arijadi (1940–2016) lebih dari sekadar sastrawan—ia adalah pelopor teater modern di Kalsel. Lahir di Mali-Mali, Martapura, ia menempuh pendidikan di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, di mana ia berguru pada legenda teater Indonesia, W.S. Rendra. Bersama Rendra, ia mendirikan Studi Grup Drama Yogya, yang menjadi cikal bakal perkembangan teater eksperimental di Indonesia .  

Baca juga: Mengapa Martapura Dijuluki "Serambi Mekah"?

Karyanya tidak hanya terbatas pada panggung teater. Ia juga menulis naskah drama, puisi, dan esai kritik seni. Salah satu kontribusi besarnya adalah mendirikan Sanggar Antasari, sebuah wadah bagi seniman Banjar untuk mengembangkan karya berbasis budaya lokal. Ia dikenal dengan semboyan "Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing"(Pantang Menyerah, Berjuang Sampai Akhir), yang mencerminkan semangatnya dalam melestarikan seni Banjar.  

Y.S. Agus Suseno: Penyair yang Menyuarakan Identitas Banjar

Yusran Salman Agus Suseno (1964–2024) adalah salah satu penyair kontemporer paling produktif dari Kalsel. Karya-karyanya banyak mengangkat tema sosial, lingkungan, dan kearifan lokal Banjar. Puisi-puisinya seperti "Di Bawah Langit Beku" dan "Sungai Martapura" menggambarkan pergulatan manusia dengan alam serta perubahan zaman .  

Selain menulis puisi, Agus Suseno aktif di dunia teater dan kerap menjadi juri festival sastra. Ia juga menerbitkan buku-buku berbahasa Banjar, seperti "Han Nyaman Ti Pang! Kambang Rampai Puisi Basa Banjar", yang memperkaya khazanah sastra daerah. Kematiannya pada 2024 meninggalkan duka mendalam bagi dunia sastra Indonesia, tetapi karyanya tetap hidup dalam antologi dan ingatan pembaca.

Maman S. Tawie & Tajuddin Noor Ganie: Penjaga Arsip Sastra Kalsel  

Jika Adjim Arijadi dan Agus Suseno dikenal sebagai kreator, maka Maman S. Tawie dan Tajuddin Noor Ganie adalah dokumenter yang menjaga sejarah sastra Kalsel tetap hidup.  

Baca juga: 4 Taman Terbaik di Kalimantan Selatan: Dari Bunga Matahari hingga Wahana Ramah Anak

Maman S. Tawie dikenal sebagai peneliti dan pengarsip sastra Banjar. Ia mengumpulkan naskah-naskah puisi, syair, dan prosa dari para pujangga lokal, memastikan bahwa warisan sastra Banjar tidak punah ditelan zaman.  

Tajuddin Noor Ganie tidak hanya menulis, tetapi juga mengorganisir lokakarya dan penerbitan sastra. Karyanya, "Antologi Biografi 643 Sastrawan Kalsel", menjadi referensi penting bagi siapa pun yang ingin mempelajari perkembangan sastra di Kalimantan Selatan .  

Ketiga tokoh ini—Adjim Arijadi, Y.S. Agus Suseno, serta Maman S. Tawie dan Tajuddin Noor Ganie—telah memberikan kontribusi luar biasa bagi dunia sastra Indonesia. Mereka tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga membangun fondasi bagi generasi penulis berikutnya.  

Dengan mengenal karya mereka, kita turut melestarikan warisan budaya yang tak ternilai.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Sastra-Indonesia.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU