Di era digital, adaptasi lagu dengan lirik bahasa daerah menjadi tren yang tak hanya menghibur tetapi juga memperkaya khazanah budaya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lagu-lagu viral yang liriknya diubah ke dalam Bahasa Banjar—bahasa khas Kalimantan Selatan yang kaya akan dialek dan ekspresi unik.
Dari TikTok hingga YouTube, kreator lokal berhasil menciptakan versi baru yang tidak hanya populer di kalangan masyarakat Banua, tetapi juga menarik minat pendengar dari berbagai daerah.
1. "Karna Su Sayang" Jadi Lebih Kental dengan Bahasa Banjar
Lagu "Karna Su Sayang" awalnya dikenal dengan irama reggaeska yang menenangkan. Namun, melalui akun TikTok @racununiks, lagu ini diadaptasi dengan lirik Bahasa Banjar yang kental.
Misalnya, lirik asli "Karna su sayang, kulantang sabuting…" berubah menjadi "Mun aku ni cinta, handak sabuting ja…". Kosa kata seperti "sabuting" (satu), "bapadah" (berkata), dan "kada pacang" (tidak akan) membuat lagu ini tetap mempertahankan makna sekaligus iramanya.
Versi ini viral dengan ribuan like dan komentar, memicu kreator lain untuk membuat duet atau stitch. Tagar seperti #Lagubanjar dan #ViralkanLaguKita pun ramai digunakan, menunjukkan bagaimana adaptasi sederhana bisa memperkuat identitas budaya.
Baca juga: Kuis: Kamu Lebih Cocok Jadi Bekantan, Buaya, atau Elang di Kalsel?
2. "Ciinan Bana": Dari Minang ke Banjar dengan Sentuhan Modern
Lagu pop Minang "Ciinan Bana" diaransemen ulang oleh JMB Crew dengan lirik sepenuhnya dalam Bahasa Banjar. Penyanyi Iqbal membawakan lagu ini dengan paduan musik tradisional seperti kendang dan suling, namun tetap mempertahankan nuansa modern. Lirik seperti "Ciinan bana sayang pian…" (Benar-benar sayang padamu) berhasil memikat pendengar, bahkan di luar Kalimantan Selatan.
Video YouTube-nya mendapat puluhan ribu viewers dan banyak komentar positif. Banyak netizen mengaku tertarik mempelajari kata-kata Banjar setelah mendengarnya. Penyebarannya di Instagram Reels dan WhatsApp Story juga memperluas jangkauan lagu ini.
3. "Stecu Stecu": Dangdut Koplo Bernuansa Banjar
Lagu "Stecu Stecu" yang awalnya dikenal dengan irama dangdut koplo, diadaptasi oleh @amangmandala2 di TikTok dengan lirik Bahasa Banjar. Ungkapan sehari-hari seperti "jani talingat" (sekarang ingat), "lunglai ati" (sedih hati), dan "napa kamek ulun" (kenapa aku) membuat lagu ini semakin relatable bagi masyarakat Banjar.
Tidak hanya viral di TikTok, lagu ini juga menjadi tren di acara hajatan dan kuda lumping. Beberapa grup Facebook seperti "Banjar Kreatif" membahas terjemahan istilah lokal dalam lagu ini, menunjukkan bagaimana musik bisa menjadi media pelestarian bahasa.
Baca juga: Bahasa Banjar yang Terbagi Dua Dialek Dengan Kaunikannya, Mari Kenali Lebih Dalam!
Bahasa Banjar memiliki keunikan fonologis, seperti bunyi "ng" di akhir kata atau penambahan akhiran "-ah" untuk penegasan. Tantangan terbesar dalam adaptasi adalah menjaga ketepatan irama dan sajak tanpa mengubah makna emosional lagu. Namun, justru di situlah letak kreativitas para pembuat konten.
Adaptasi lagu seperti ini tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya. Mereka memperkenalkan Bahasa Banjar kepada generasi muda sekaligus mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran konten global.
Dari "Karna Su Sayang" hingga "Stecu Stecu", adaptasi lirik ke Bahasa Banjar membuktikan bahwa kreativitas tanpa batas bisa melahirkan karya yang menghibur sekaligus mendidik. Tren ini tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga membuka peluang bagi lagu-lagu daerah untuk go nasional—bahkan internasional. Siapa sangka, sebuah perubahan lirik sederhana bisa membawa dampak begitu besar?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok @racununiks, YouTube JMB Crew, TikTok @amangmandala2