Bayangkan suasana pasar terapung di Banjarmasin yang ramai tak pernah berhenti, dari pagi buta hingga larut malam. Perahu-perahu penuh dagangan berseliweran, dihiasi gemerlap lampu lampion, sementara pedagang dan wisatawan terus berinteraksi tanpa jeda. Fantasi menarik, bukan? Namun, benarkah pasar terapung di Kalimantan Selatan bisa beroperasi 24 jam? Mari telusuri faktanya.
Operasional Tradisional: Hanya di Pagi Hari
Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura adalah ikon budaya Banjar yang sudah berlangsung turun-temurun. Namun, jangan harap menemukannya siang atau malam. Menurut Website Resmi Kecamatan Banjarmasin Utara, aktivitas jual-beli di sini hanya berlangsung pukul 06.30–08.00 WITA. Begitu jam menunjukkan pukul 8 pagi, suasana pun sepi—pedagang kembali ke darat, dan perahu-perahu bersandar.
Baca juga: Pasar Legendaris Kalimantan Selatan, Menyusuri Jejak Budaya dan Perniagaan di Atas Air
Program serupa seperti "Giat Pasar Terapung" di Jalan P. Tandean juga hanya digelar Minggu pagi (07.00–10.00 WITA). Bahkan festival tahunan sekalipun tetap mempertahankan waktu pagi hari. Jadi, klaim pasar terapung 24 jam jelas jauh dari kenyataan.
Upaya Pasar Malam: Rekayasa yang Tetap Terbatas
Pemerintah Kota Banjarmasin pernah berinovasi dengan menghadirkan Pasar Terapung Siring Tendean sebagai versi "malam hari". Pasar ini buka Sabtu sore hingga tengah malam (15.00–24.00 WITA) dan Minggu pagi (06.00–12.00 WITA). Meski lebih panjang durasinya, frekuensinya hanya akhir pekan—tidak cukup untuk disebut operasional 24 jam.
Floating Night Market: Wisata, Bukan Pasar Konvensional
Sejak April 2025, Banjarmasin memperkenalkan Floating Night Market (Pasar Terapung Malam) yang digadang-gadang sebagai terobosan baru dan digelar setiap akhir pekan (18.00–22.00 WITA) dengan konsep hiburan: lampion terapung, musik akustik, dan kuliner khas Banjar. Namun, durasi 4 jam per malam dan sifatnya yang lebih sebagai event wisata membuatnya tidak bisa disamakan dengan pasar tradisional yang buka nonstop.
Mungkinkah Pasar Terapung 24 Jam?
Secara teknis, banyak tantangan:
- Infrastruktur: Pasar terapung mengandalkan perahu dan sungai yang gelap di malam hari, butuh penerangan memadai.
- Tenaga Kerja: Pedagang tradisional terbiasa beraktivitas pagi, tidak semua mau bekerja shift malam.
- Permintaan Wisatawan: Apakah ada cukup pengunjung di tengah malam?
Baca juga: Ketika Kain, Batu, dan Air Menjadi Manusia: Transformasi Magis Kalsel ke Dunia Anime
Sebagai perbandingan, Pasar Chowrasta di Malaysia yang buka 24 jam sukses karena lokasinya di darat dan didukung fasilitas modern. Untuk Banjarmasin, mungkin bisa dimulai dengan uji coba memperpanjang jam operasional Floating Night Market hingga pukul 02.00 WITA, lalu evaluasi respons masyarakat.
Pasar terapung 24 jam masih sekadar wacana menarik. Saat ini, yang ada hanyalah variasi operasional pagi, malam, atau akhir pekan—dengan durasi terbatas. Jika ingin mengalami pesonanya, datanglah pagi hari ke Lok Baintan atau nikmati Floating Night Market di akhir pekan. Siapa tahu, suatu hari nanti impian pasar terapung nonstop benar-benar terwujud!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kecamatan Banjarmasin Utara, Kompas.com, PorosJakarta.com