Minggu, 27 JULI 2025 • 09:16 WIB

Hidup di Kampung Banjar dan Kota Banjarmasin, Dua Wajah Budaya di Tepian Sungai

Author

Pasar Terapung (Pinterest/Beth)

KALSEL - Di antara riak Sungai Martapura dan Barito, tersimpan cerita tentang dua dunia yang berbeda namun saling melengkapi. Masyarakat Banjar telah lama menjalin hubungan erat dengan sungai, namun cara mereka berinteraksi dengan aliran kehidupan ini bervariasi antara kampung halaman dan pusat kota.  

Di pelosok desa, sungai masih menjadi pusat denyut kehidupan sehari-hari. Rumah-rumah panggung dari kayu ulin dengan atap menjulang khas Bubungan Tinggi berdiri menghadap aliran air, seolah memberi penghormatan pada sumber kehidupan.

Setiap pagi, warga beraktivitas di batang - rakit kayu multifungsi yang menjadi tempat mandi, mencuci, sekaligus dermaga bagi jukung, perahu tradisional mereka. Pasar terapung di Lok Baintan masih ramai dengan transaksi dari perahu ke perahu, melanjutkan tradisi yang telah berlangsung sejak era Kesultanan Banjar.  

Berbeda dengan ketenangan kampung, Banjarmasin menawarkan dinamika yang lebih kompleks. Meski dijuluki Kota Seribu Sungai, hubungan masyarakat urban dengan aliran air mulai berubah. Kanal-kanal yang dulu menjadi urat nadi transportasi kini menghadapi tantangan pencemaran.

Baca juga: Tahukah Kamu? Ini Dia Julukan Unik Kota Kota di Kalimantan Selatan

Permukiman padat di bantaran sungai kerap membelakangi aliran air, berbeda dengan tata letak tradisional di pedesaan. Pasar Terapung Kuin yang legendaris masih bertahan, namun lebih banyak dikunjungi wisatawan daripada pedagang lokal.  

Di tengah perubahan ini, Kampung Sungai Jingah muncul sebagai permata budaya yang berusaha bertahan. Sekitar seratus rumah kayu tradisional masih tegak berdiri di tepian Martapura, termasuk beberapa rumah Bubungan Tinggi yang dahulu hanya dimiliki keluarga bangsawan.

Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya lebih dari satu dekade lalu, namun potensinya sebagai desa wisata belum sepenuhnya tergali. Usaha kecil mulai bermunculan, menawarkan kuliner khas seperti wadai 41 jenis hingga kerajinan sasirangan, tapi dukungan pemerintah masih terasa kurang.  

Seni dan tradisi mengalami metamorfosis menarik. Di desa, alunan panting masih mengiringi acara pernikahan, sementara mamanda - teater tradisional Banjar - kerap dipentaskan di lapangan terbuka.

Di kota, kesenian ini menemukan bentuk baru melalui festival budaya seperti Isen Mulang, meski terkadang kehilangan nuansa sakralnya. Makanan tradisional seperti apam dan putri selat masih bisa ditemui, meski sebagian sudah diproduksi secara massal dengan rasa yang berbeda dari versi aslinya.  

Baca juga: Sehari Hidup Seperti Orang Banjar Zaman Dulu: Menelusuri Ritual, Kesenian, dan Keseharian yang Sarat Makn

Generasi muda Banjar kini berada di persimpangan jalan. Di kampung, anak-anak masih belajar menganyam purun dan berbahasa Banjar. Di kota, pengaruh globalisasi lebih kuat, namun muncul juga inisiatif-inisiatif kreatif dari komunitas muda untuk melestarikan warisan budaya.  

Pada akhirnya, baik kehidupan di kampung maupun kota sama-sama memiliki nilai tersendiri. Yang satu mengajarkan keselarasan dengan alam, yang lain menunjukkan kemampuan beradaptasi.

Mungkin pelajaran terpenting adalah bagaimana mengambil yang terbaik dari kedua dunia ini - mempertahankan akar budaya sambil tetap terbuka terhadap kemajuan. Seperti sungai yang terus mengalir menemui laut, kebudayaan pun harus tetap hidup dan berkembang.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News, Jurnal Sosial Pariwisata Oleh Helda Yuliani, SMKN 5 Banjarmasin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU