Jumat, 25 JULI 2025 • 16:00 WIB

Pais Pisang Dengan Kelezatan dan Makna Filosofis Kue Tradisional Banjar

Author

Pais Pisang, kue tradisional khas Banjar (Pinterest/mlma)

KALSEL - Di tengah beragamnya kuliner Nusantara, Pais Pisang atau Pais Hampa menonjol sebagai salah satu kue tradisional khas suku Banjar, Kalimantan Selatan. Kue ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi mendalam. Dibuat dengan bahan sederhana seperti pisang, santan, dan tepung beras, Pais Pisang diolah dengan cara dikukus dalam bungkusan daun pisang, menghasilkan cita rasa manis-gurih yang khas.  

Sejarah dan Makna Budaya

Pais Pisang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banjar. Kue ini sering muncul dalam acara penting, mulai dari pernikahan, selamatan, hingga perayaan hari raya. Kehadirannya melambangkan rasa syukur dan kebersamaan. Filosofi di baliknya pun menarik—pisang sebagai bahan utamanya melambangkan kesuburan dan keberkahan, sementara proses pengukusan mencerminkan kesederhanaan dan keharmonisan hidup.  

Baca juga: Dadar Gulung Khas Banjar Si Kue Tradisional yang Kaya Cita Rasa dan Makna

Bahan dan Proses Pembuatan 

Keunikan Pais Pisang terletak pada bahan alami dan teknik pembuatannya yang tradisional. Pisang yang digunakan biasanya jenis pisang talas atau pisang raja karena tingkat kematangannya pas dan rasanya manis. Santan kelapa segar memberikan sentuhan gurih, sementara daun pisang sebagai pembungkus menambah aroma yang menggoda.  

Proses pembuatannya terbilang sederhana:  

  1. Pisang dihaluskan atau dipotong kecil, lalu dicampur dengan santan, tepung beras, gula, dan sedikit garam.  
  2.  Adonan dibungkus daun pisang, lalu dikukus selama 30–45 menit hingga matang.  
  3. Hasilnya adalah kue lembut yang bisa dinikmati hangat atau dingin.  

Ciri Khas yang Membuatnya Istimewa  

  • Tekstur yang lembut dan lumer di mulut, berbeda dengan olahan pisang yang digoreng.  
  • Rasa dari perpaduan sempurna antara manis pisang, gurih santan, dan wangi daun pisang.  
  • Disajikan polos tanpa tambahan saus, cocok dinikmati dengan teh atau kopi.  

Pelestarian Kuliner Banjar

Pais Pisang adalah bukti kecerdasan masyarakat Banjar dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Kue ini terus dilestarikan, tidak hanya sebagai hidangan lezat, tetapi juga sebagai warisan budaya. Bagi yang ingin menjelajahi kuliner Banjar lebih jauh, ada banyak varian kue tradisional lain seperti Amparan Tatak atau Dodol Kandangan yang tak kalah menarik.  

Baca juga: Rahasia Kenikmatan Amparan Tatak: Kudapan Manis Khas Banjar

Dengan cita rasa yang autentik dan nilai budaya yang kaya, Pais Pisang layak menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang patut dilestarikan. Tertarik mencoba atau membuatnya sendiri?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Sastrawan, M. (2019). Makanan Adat Suku Banjar: Sejarah Dan Makna. Penerbit Budaya Nusantara., Tim Penelitian Kuliner Tradisional (2021). Kajian Etnografis Makanan Khas Kalimantan. Jurnal Gastronomi Indonesia.

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU