Ilustrasi Ikan Saluang di perairan yang jernih (Dok. AI)
Kalimantan tidak hanya kaya akan hutan dan budaya, tetapi juga hidangan khas yang menggugah selera. Salah satunya adalah Iwak Saluang, ikan kecil air tawar yang menjadi primadona kuliner masyarakat Dayak.
Dengan rasa gurih, tekstur renyah, dan kandungan gizi tinggi, ikan ini tidak hanya lezat tetapi juga sarat manfaat. Namun, di balik kelezatannya, Iwak Saluang menghadapi ancaman serius akibat penangkapan berlebihan dan degradasi habitat.
Iwak Saluang bukanlah nama satu spesies tunggal, melainkan sebutan untuk beberapa jenis ikan dari genus Rasbora, famili Cyprinidae. Beberapa spesies yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Rasbora argyrotaenia, R. bankanensis, dan R. sumatrana. Ukurannya bervariasi, mulai dari 2 cm hingga 16 cm, dengan ciri khas warna putih kekuningan dan garis hitam di sepanjang tubuhnya.
Spesies seperti Rasbora argyrotaenia menunjukkan pertumbuhan alometrik positif, di mana berat tubuhnya meningkat lebih cepat daripada panjangnya. Hal ini menandakan ketersediaan makanan yang melimpah di habitat alaminya, seperti sungai-sungai di Kalimantan. Namun, perubahan pola pertumbuhan ini bisa menjadi indikator awal gangguan ekosistem.
Baca juga: Evaluasi Program Rehabilitasi Hutan di Kalsel: Tantangan Air dan Komitmen Iklim
Habitat dan Peran Ekologis
Iwak Saluang hidup bergerombol di sungai-sungai Kalimantan, seperti Sungai Sekadau dan Danau Lutan. Mereka menyukai perairan dengan kualitas air spesifik:
Ikan ini berperan penting sebagai bio-indikator kesehatan sungai. Kelimpahan fitoplankton, terutama dari kelas Bacillariophyceae, menjadi makanan utamanya. Jika populasi Iwak Saluang menurun, bisa jadi itu pertanda degradasi lingkungan, seperti polusi atau perubahan aliran sungai.
Kuliner yang memberikan rasa gurih, dan teksturnya renyah serta kaya rasa termasuk kepalanya yang tidak pahit, sehingga bisa dimakan seluruhnya. Berikut adalah berapa olahan tradisional yang populer dan bisa kamu buat, antara lain:
Baca juga: Kuliner Unik Ini Hanya Ada di Kalimantan Selatan!
Inovasi seperti penggunaan pressure cooker untuk melunakkan tulang menunjukkan adaptasi masyarakat dalam mengolah ikan ini tanpa mengurangi cita rasanya.
Bagi masyarakat Dayak, Iwak Saluang bukan hanya sumber protein, tetapi juga bagian dari tradisi dan kepercayaan. Misalnya, ada pamali (larangan) membakar ikan ini di tengah hutan karena diyakini mengundang makhluk gaib. Alat tangkap tradisional seperti kabam (perangkap bambu) juga digunakan, meski kini mulai tergantikan oleh alat modern.
Ancaman dan Upaya Konservasi
Nilai ekonomi Iwak Saluang yang tinggi justru menjadi bumerang. Penangkapan berlebihan dan degradasi habitat mengancam populasinya. Beberapa spesies, seperti *Rasbora sumatrana*, bahkan berstatus "Data Deficient" menurut IUCN, artinya informasi untuk menilai risiko kepunahannya masih minim.
Upaya konservasi yang bisa dilakukan:
Profil Gizi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kumparan, Rri.co.id, Research Gate