Rabu, 23 JULI 2025 • 19:00 WIB

5 Rekomendasi Monolog Cerita Lokal Kalimantan Selatan yang Memukau

Author

Penampilan monolog di atas panggung (Pinterest/Soda Pop)  

Kalimantan Selatan tidak hanya kaya akan alam, tetapi juga memiliki kekayaan seni pertunjukan tradisional yang memikat. Salah satunya adalah seni monolog yang sarat dengan nilai budaya, kritik sosial, dan kisah-kisah legendaris. Monolog tradisional di sini sering kali menggabungkan tuturan lisan, musik, dan improvisasi, menjadikannya sebuah pertunjukan yang hidup dan penuh makna.  

Berikut lima rekomendasi monolog cerita lokal Kalimantan Selatan yang layak untuk ditonton atau dipelajari:  

1. Bapandung: Teater Monolog Khas Banjar
Bapandung adalah seni monolog tradisional khas Banjar yang mengandalkan tuturan lisan berirama. Seniman yang membawakannya disebut pamanduan atau tukang pandung, dan mereka harus menguasai bahasa Banjar dengan baik serta mampu berimprovisasi.  

Monolog ini sering menyampaikan pesan moral, kritik sosial, atau kisah jenaka dengan kemasan humor. Musik tradisional seperti panting (gamelan Banjar) dan rebana kerap mengiringi pertunjukan, menambah daya tariknya. Bapandung fleksibel dan bisa ditampilkan dalam berbagai acara, mulai dari pernikahan hingga festival budaya .  

Judul yang Direkomendasikan yaitu "Terlanjur Purun (Tega)" merupakan sebuah monolog yang pernah dibawakan oleh Abdul Syukur dari Sanggar Lawang, mengisahkan tentang kehidupan dan konflik sosial masyarakat Banjar .  

2. Madihin: Pantun Berirama yang Menghibur  
Madihin adalah seni monolog atau duet yang menggunakan pantun dan syair berbahasa Banjar. Meskipun lebih dikenal sebagai seni berbalas pantun, beberapa pertunjukan Madihin juga dibawakan dalam bentuk monolog dengan iringan gendang.  

Kata "Madihin" berasal dari bahasa Arab "Madah" yang berarti nasihat atau pujian. Syair-syairnya mengandung pesan moral, sindiran halus, dan humor. Kesenian ini masih populer di kalangan generasi muda, bahkan sering diunggah di media sosial .  

Judul yang Direkomendasikan adalah "Madihin Banjar: Kritik Sosial dalam Balutan Humor" merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan tradisi lisan dengan isu kontemporer.  

3. "Tiga Monolog" oleh Y.S. Agus Suseno
Karya sastra ini merupakan kumpulan monolog yang mengangkat kisah-kisah pilu masyarakat Kalimantan Selatan, terutama tentang perampasan tanah dan konflik lingkungan. Salah satu monolognya berjudul "2000 + 25 = S.O.S.!" menceritakan seorang lelaki tua dari Pegunungan Meratus yang kehilangan keluarga dan tanahnya akibat eksploitasi hutan.  

Monolog ini sarat dengan metafora dan diksi puitis, menggambarkan kepedihan dan perlawanan masyarakat adat. Penggunaan bahasa Banjar dan unsur spiritual seperti Ning Diwata (dewi alam) memperkaya narasinya .  

Judul yang Direkomendasikan yaitu "2000 + 25 = S.O.S.!" – sebuah monolog yang menghadirkan suara rakyat yang terpinggirkan.  

4. "Putri Junjung Buih": Drama Monolog dari Legenda Banjar  
Putri Junjung Buih adalah legenda terkenal di Kalimantan Selatan tentang seorang bayi perempuan yang ditemukan terapung di sungai oleh Raja Patmaraga. Kisah ini sering diadaptasi menjadi drama atau monolog teater.  

Dalam versi monolog, pencerita dapat memainkan perbagai karakter, seperti Raja Patmaraga, Kuripan (pengasuh Putri Junjung Buih), atau bahkan sang putri sendiri. Cerita ini mengandung nilai spiritual, pengorbanan, dan keajaiban yang khas dengan budaya Banjar .  

Judul yang Direkomendasikan adalah "Monolog Putri Junjung Buih: Kisah Mistis dari Sungai Banjar"* – sebuah adaptasi teatrikal yang memukau.  

5. "Lamut": Kisah Epik dalam Bentuk Monolog
Lamut adalah seni tutur tradisional Banjar yang awalnya digunakan untuk menyebarkan agama Islam. Meski biasanya dibawakan dalam bentuk syair panjang, beberapa seniman mengadaptasinya menjadi monolog dengan iringan musik tarbang (rebana Banjar).  

Kisah-kisah dalam Lamut sering diambil dari epik Islam atau legenda lokal, seperti Hikayat Banjar dan Cerita Nabi. Monolog Lamut menggabungkan unsur religi, sejarah, dan mitos, menjadikannya pertunjukan yang mendalam.

Judul yang Direkomendasikan adalah "Lamut: Suara dari Masa Lalu yang Tetap Bergema"* – sebuah monolog yang mengajak penonton menyelami sejarah Banjar.  

 
Monolog cerita lokal Kalimantan Selatan tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga media pelestarian budaya, kritik sosial, dan pendidikan moral. Dari Bapandung yang jenaka hingga "Tiga Monolog" yang penuh kepedihan, setiap karya memiliki keunikan dan pesannya sendiri.  

Jika Anda tertarik mempelajari lebih dalam, pertunjukan-pertunjukan ini sering dipentaskan dalam festival budaya atau bisa ditemukan dalam dokumentasi teater tradisional.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kompasiana.com, Diskominfo Kalsel, Jendelasastra.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU