Senin, 21 JULI 2025 • 12:00 WIB

Mamanda: Seni Teater Tradisional Kalsel

Author

Teater Tradisional Khas Kalimantan Selatam yaitu Mamanda (Pinterest/jeje)
Mamanda adalah seni teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya Banjarmasin. Lebih dari sekadar hiburan, Mamanda menjadi media pendidikan karakter dan pelestarian nilai-nilai budaya Banjar. Berikut ulasan lengkap tentang sejarah, karakteristik, dan upaya pelestariannya. 

Asal-Usul dan Sejarah Mamanda

Mamanda berakar dari kesenian Badamuluk, yang dibawa oleh rombongan Abdoel Moelock dari Malaka pada tahun 1897. Awalnya dikenal sebagai Komedi Indra Bangsawan, kesenian ini berevolusi seiring waktu. Nama "Mamanda" sendiri muncul karena kebiasaan pemain memperkenalkan diri dengan awalan "Mamanda", yang kemudian melekat di ingatan penonton. 

Perkembangan Mamanda tercatat sejak abad ke-11 dengan pengaruh Wayang Urang dari Jawa, lalu semakin berkembang pada abad ke-20. Pada 1937, lahir aliran Tubau di Desa Tubau Rantau, yang dikenal lebih adaptif terhadap modernisasi. Pada 2017/2018, Mamanda resmi didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). 

Karakteristik Unik Mamanda 
1. Interaksi dengan Penonton
   Mirip dengan Lenong Betawi, Mamanda melibatkan penonton secara aktif melalui komentar lucu, menciptakan suasana partisipatif. 

2. Bahasa Multidialek
   Menggunakan Bahasa Banjar Hulu, Banjar Kuala, Melayu Banjar, dan Bahasa Indonesia untuk menjangkau audiens lebih luas. Humor dalam Mamanda sering kali memanfaatkan nuansa dialek ini. 

3. Struktur Pertunjukan

  • Ladon, Pembukaan dengan pantun yang dinyanyikan, diiringi musik tradisional seperti gong, biola, dan gendang.
  • Sidang Kerajaan, Cerita utama dengan tokoh-tokoh seperti Raja, Perdana Menteri, dan Panglima Perang.
  • Babujukan, Penutup cerita. 

4. Musik Pengiring
   Mamanda tradisional diiringi alat musik seperti biola, gendang, atau orkes melayu. Aliran Tubau bahkan mengadaptasi musik populer untuk menarik generasi muda. 

Nilai Budaya dan Fungsi Edukatif 
Mamanda sarat dengan pesan moral, seperti: 

  • Nilai Religi. Ketaatan kepada Allah dan kesabaran menghadapi cobaan, seperti tergambar dalam naskah Prahara Gumilang Kaca. 
  • Tata Kelakuan. Etika dalam keluarga, masyarakat, dan pemerintahan, misalnya sikap sopan antara Raja dan rakyat. 
  • Gotong Royong. Cerita sering menampilkan kepedulian sosial, seperti tokoh Galuh Sari yang membantu anak yatim.  

Sekarang, Mamanda menghadapi tantangan serius dalam pelestariannya. Krisis regenerasi pelaku seni terjadi karena minimnya pengajar kompeten dan kurangnya insentif ekonomi bagi seniman. Dokumentasi yang terbatas dan tergerusnya popularitas oleh hiburan modern semakin memperparah kondisi. 

Berbagai upaya dilakukan untuk menjawab tantangan ini. Pemprov Kalsel menggelar lokakarya dan program regenerasi melibatkan seniman senior dan pelajar. Empat "pakem" inti seperti Tari Ladon sedang didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Adaptasi seperti durasi lebih singkat dan tema kontemporer dilakukan tanpa mengorbankan keaslian. Taman Budaya Kalsel rutin mengadakan pementasan, sementara akademisi didorong meneliti naskah-naskah Mamanda. 

Meski masih eksis, Mamanda menghadapi tantangan serius: 

  1. Regenerasi Pelaku. Minimnya guru/pengajar yang memahami Mamanda secara mendalam. 
  2. Kesejahteraan Seniman. Kurangnya insentif ekonomi membuat profesi ini kurang diminati generasi muda. 
  3. Dokumentasi. Minimnya pengarsipan naskah dan kajian akademik. 

Saat ini ada beberapa upaya yang Dilakukan, termasuk

  • Pemprov Kalsel. menggalakkan regenerasi me dan pelatihan guru. 
  • Pendaftaran WBTB. untuk elemen inti seperti Tari Ladon. 
  • Modernisasi. Durasi pertunjukan dipersingkat dan cerita diadaptasi dengan isu terkini. 

Mamanda adalah warisan budaya yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Pelestariannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat. Dengan menjaga "pakem" seperti Ladon sambil berinovasi, Mamanda bisa tetap relevan untuk generasi mendatang. 

Tertarik menyaksikan langsung?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Radar Banjarmasin, Neliti, Ambisius Wiki

Author
Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU