Minggu, 06 JULI 2025 • 21:08 WIB

Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar

Author

Kain Sasirangan berwarna kuning dengan motif yang beragam (Dok. Ilustrasi AI)

Kain Sasirangan adalah karya budaya suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang telah diwariskan turun-temurun sejak abad ke-12 dengan teknik ikat celup yang khas menggambarkan kearifan lokal Banjar serta cerita menarik dibalik kain kebanggaan Kalimantan Selatan ini.

Akar Sejarah dan Legenda Magis
Kain ini memiliki asal usul magis, yang menurut legenda Banjar mengisahkan bahwa kain Sasirangan pertama kali dibuat untuk Putri Junjung Buih, yang muncul dari buih di perairan setelah Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam.

Saat itu sang putri meminta selembar kain yang bisa di buat hingga waktu yang ditentuka dan untuk memenuhi permintaan itu Patih Lambung Mangkurat mengadakan sanyembara hingga hampir pada waktu yang ditentukan tiba seorang putri membawa sehelai kain yang ditenun dan diwarnai oleh 40 dayang dari dengan motif wadi/padiwaringin yang kemudian dikenal sebagai Sasirangan pertama.

Baca juga: Kuliner Unik Ini Hanya Ada di Kalimantan Selatan!


Awalnya, kain Sasirangan dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai pelindung dari roh jahat dan gangguan mahluk halus serta menjadi pengobatan atau  batatamba melalui warna yang disesuaikan dengan jenis penyakit yang ingin disembuhkan.
- Kuning untuk sakit kuning (gondong)
- Merah untuk sakit kepala atau insomnia
- Hijau untuk kelumpuhan atau stroke
- Ungu untuk sakit perut
- Hitam untuk demam atau gatal-gatal
- Coklat untuk penyakit kejiwaan atau stres

Kini, Sasirangan telah bertransformasi dari kain ritual menjadi bagian dari kehidupan modern dan banyak digunakan sebagai bahan pakaian (kemeja, gaun, rok), aksesori (syal, tas), hingga produk rumah tangga (taplak meja, gorden). Meskipun begitu nilai nilai tradisional dan kearifan lokal tetap terjaga dalam setiap helai kain Sasirangan.

Proses Pembuatan yang Unik dan Ramah Lingkungan
Nama "Sasirangan" berasal dari kata yang merujuk pada teknik jahit jelujur yang menjadi ciri khas pembuatannya, yaitu sirang atau yang berarti jelujur.

Baca juga: 5 Destinasi Wisata Alam di Kalsel yang Instagramable


Prosesnya dimulai dengan membuat motif di atas kain putih yang biasanya memiliki makna dari alam dan kehidupan sehari-hari masyarajat Banjar, seperti motif Gigi Haruan yang menggambarkan ketajaman berpikir atau Bintang Bahambur yang mencerminkan kebesaran tuhan.

Setelah itu semua motif dijahit jelujur dengan benang lalu ditarik hingga membentuk kerutan dan diikat kuat (sisit) agar tidak lepas saat proses pewarnaan.

Teknik pewarnaan Sasirangan juga memiliki metode utama yang terbagi menjadi tiga.
1. Pecoletan, untuk menghasilkan lebih dari satu warna
2. Pencelupan, untuk satu warna, dengan bagian yang dijelujur tetap putih
3. Kombinasi, gabungan kedua teknik di atas

Pelestarian Sasirangan untuk menjaga budaya yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi dapat dilakukan baik melalui kolaborasi berbagai pihak, dari pemerintah, pengrajin, akademisi, hingga masyarakat umum atau individu tentang sejarah dan teknik pembuatan Sasirangan.

Dengan keunikan proses pembuatan, kekayaan motif, dan filosofi yang terkandung di dalamnya, kain ini tidak hanya indah dipandang sebagai kebanggan budaya lokal tetapi juga sarat dengan cerita dan makna yang patut kita lestarikan bersama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemerintah Kalimantan Selatan, Indonesia Kaya, Telkom University

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU