Ikon Martapura Kota Intan, Kabupaten Banjar (Taufik Hid4yat)
Bagi para pencinta batu mulia dan wisatawan yang pernah berkunjung ke Kalimantan Selatan, nama Martapura tentu sudah tidak asing lagi. Kota yang menjadi ibu kota Kabupaten Banjar ini memiliki daya tarik magis yang memikat siapa saja. Ke mana pun Anda memandang di pusat kotanya, kilauan batu permata akan dengan mudah menyapa mata. Tak heran, kota ini menyandang julukan yang sangat mentereng: Kota Intan.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa julukan ini begitu melekat kuat pada Martapura? Mengapa bukan kota lain di Indonesia? Jawabannya terletak pada perpaduan kaya antara sejarah, kekayaan alam yang melimpah, dan denyut nadi ekonomi masyarakatnya.
Jejak Sejarah Penggalian Intan Tradisional
Alasan utama di balik julukan Kota Intan adalah sejarah panjang penambangan intan di wilayah ini yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Sejak zaman Kesultanan Banjar, perut bumi Martapura dikenal menyimpan harta karun berupa batuan mulia berkualitas tinggi.
Masyarakat setempat secara turun-temurun mencari intan menggunakan metode tradisional yang disebut mendulang. Salah satu lokasi mendulang yang paling legendaris adalah Cempaka. Di sini, para pendulang bertaruh nasib menggunakan alat berbentuk caping kayu bernama linggangan untuk memisahkan butiran intan dari pasir dan lumpur sungai. Proses yang melelahkan ini menjadi simbol kegigihan warga Martapura dalam merengkuh kekayaan bumi mereka.
Penemuan Intan Trisakti yang Mengguncang Dunia
Berbicara tentang Martapura tidak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah pada tahun 1965. Sebuah batu intan mentah berukuran raksasa seberat 166,75 karat ditemukan oleh sekelompok pendulang tradisional di kawasan Cempaka.
Intan raksasa tersebut kemudian diberi nama Intan Trisakti oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Penemuan spektakuler ini langsung meroketkan nama Martapura ke panggung internasional. Dunia pun mengakui bahwa kualitas intan dari bumi Kalimantan merupakan salah satu yang terbaik, dengan tingkat kekerasan dan kilau yang sangat jernih. Peristiwa inilah yang semakin mengukuhkan status Martapura sebagai ibu kota intan di Indonesia.
Pusat Perdagangan dan Penggosokan Batu Mulia terbesar
Alasan berikutnya mengapa Martapura disebut Kota Intan adalah karena kota ini berfungsi sebagai ekosistem batu mulia yang lengkap. Martapura bukan sekadar tempat menambang, melainkan pusat hilirisasi batu permata terbesar di Indonesia.
Di kota ini, Anda bisa menemukan para perajin andal yang memiliki keahlian khusus dalam menggosok intan mentah menjadi berlian yang berkilau sempurna. Keterampilan memotong dan menggosok batu mulia ini diwariskan dari generasi ke generasi, menciptakan standar kualitas kerajinan yang tinggi.
Bagi para kolektor dan wisatawan, destinasi wajib yang harus dikunjungi adalah Pasar Cahaya Bumi Selamat (CBS). Pasar ini merupakan surga belanja batu mulia. Ratusan toko berjejer rapi menawarkan berbagai jenis perhiasan, mulai dari intan, berlian, kecubung, safir, hingga pajangan khas Kalimantan. Harganya pun sangat bervariasi, ramah untuk kantong wisatawan domestik hingga bernilai ratusan juta rupiah untuk para kolektor kelas berat.
Simbol Kebanggaan dan Identitas Daerah
Julukan Kota Intan kini bukan lagi sekadar penanda komoditas ekonomi, melainkan sudah menyatu menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Martapura. Julukan ini merefleksikan kota yang meskipun kecil, namun memiliki nilai yang sangat berharga dan berkilau di mata dunia, layaknya sebutir intan.
Kombinasi antara sejarah penambangan tradisional, penemuan batu legendaris, serta pusat perdagangan yang terus hidup membuat Martapura sangat layak menyandang gelar tersebut. Jika Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, sempatkanlah datang ke Martapura untuk merasakan sendiri atmosfer magis dari sang Kota Intan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber