Pertanian lahan rawa Kalsel (pinterest)
Kalimantan Selatan (Kalsel) kini tengah memantapkan posisinya sebagai lumbung pangan nasional, khususnya dalam menyangga kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Salah satu langkah revolusioner yang diambil Pemerintah Provinsi Kalsel adalah optimalisasi lahan rawa menjadi lahan pertanian produktif.
Strategi ini bukan tanpa alasan, mengingat luasnya potensi lahan lebak dan rawa yang tersebar di wilayah seperti Kabupaten Banjar, Barito Kuala, hingga Hulu Sungai Utara.
Mengubah Lahan Tidur Menjadi Produktif
Strategi utama Pemprov Kalsel terletak pada program Optimalisasi Lahan (Oplah). Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, pemerintah fokus pada perbaikan infrastruktur air (irigasi) di lahan rawa. Dengan pembangunan pintu air dan sistem pompa yang modern, lahan rawa yang dulunya hanya bisa ditanami sekali setahun (IP 100), kini didorong untuk bisa panen dua hingga tiga kali dalam setahun (IP 200/300).
Penggunaan Teknologi dan Varietas Unggul
Selain infrastruktur fisik, Pemprov Kalsel juga memberikan dukungan berupa:
Menuju Lumbung Pangan IKN
Gubernur Kalimantan Selatan menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar target daerah, melainkan kontribusi nyata bagi kedaulatan pangan nasional. Dengan luas lahan rawa yang mencapai ratusan ribu hektare, Kalsel diproyeksikan mampu memasok kebutuhan beras, sayuran, hingga komoditas hortikultura secara berkelanjutan.
Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya meningkatkan volume produksi padi, tetapi juga mengangkat kesejahteraan petani lokal melalui hilirisasi produk pertanian. Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, masa depan pertanian rawa Kalsel diyakini akan menjadi tulang punggung ekonomi hijau di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber