Rasi bintang di langit (Pinterest/JoAnn Tabb Canada)
KALSEL - Bagi Urang Banjar, mimpi bukan sekadar bunga tidur. Ia adalah bagian dari tatangar—sistem pengetahuan lisan yang merangkum pertanda alam, mimpi, dan perilaku untuk membaca pesan alam gaib maupun kehidupan sehari-hari. Dalam khazanah budaya Kalimantan Selatan, mimpi dipandang sebagai “data budaya” yang memandu keputusan, dari ritual hingga pewarisan peran adat.
Tatangar menjadi fondasi penafsiran mimpi dalam masyarakat Banjar. Konsep ini tercatat dalam dokumentasi Balai Bahasa Banjarmasin (2009) sebagai warisan nilai budaya yang mengklasifikasikan berbagai pertanda, termasuk mimpi. Di sini, mimpi tidak dilihat secara terpisah, tetapi sebagai bagian dari jejaring tanda yang saling berhubungan dengan lingkungan dan sosial. Misalnya, mimpi tentang bunyi burung atau hujan dapat ditafsirkan sebagai petunjuk musim atau hasil panen—sebuah fungsi ekologis yang praktis.
Beberapa motif mimpi kerap muncul dan memiliki makna mendalam dalam konteks Kalsel:
1. Buaya dan Sungai: Sebagai masyarakat yang hidup di sekitar sungai, buaya kerap hadir dalam mimpi sebagai simbol kompleks. Menurut penelitian tentang kepercayaan buaya gaib di Sungai Tabalong, mimpi bertemu buaya bisa menjadi pertanda “panggilan spiritual”. Seseorang yang bermimpi demikian diyakini terpilih untuk menjalankan peran adat atau memiliki hubungan dengan penunggu gaib sungai. Ritual malabuh (persembahan) kerap dilakukan sebagai respons mimpi ini.
Baca juga: Bahasa Banjar: Mengungkap Rahasia Di Balik Laju Ujaran yang Cepat dan Dinamis
2. Ular: Berbeda dengan tafsir umum di budaya lain, mimpi ular dalam tradisi Banjar sering diartikan sebagai pertanda rezeki atau perubahan nasib, tergantung detail mimpinya. Hal ini menunjukkan kekhasan penafsiran lokal yang tidak selalu sama dengan primbon Jawa.
3. Leluhur atau Tokoh Sakral: Mimpi bertemu leluhur atau figur legendaris seperti Putri Junjung Buih dianggap sebagai pesan moral atau nasihat yang harus ditindaklanjuti. Mimpi semacam ini memperkuat fungsi mimpi sebagai alat legitimasi dan penguatan identitas budaya.
Mimpi dalam budaya Banjar berfungsi sebagai “sensor budaya” yang merekam dan merespons dinamika komunitas. Ia digunakan untuk menjelaskan peristiwa kolektif seperti bencana atau wabah penyakit, menentukan kebutuhan ritual, hingga mewariskan peran spiritual seperti datu (dukun). Dengan demikian, mimpi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi alat kohesi sosial.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Naik Komidi Putar menurut Primbon Jawa, Pertanda Baik?
Salah satu temuan unik adalah konsep pewarisan “buaya gaib” melalui mimpi. Seseorang yang menerima “panggilan” lewat mimpi bisa dianggap memiliki ikatan dengan makhluk gaib penunggu sungai, yang kemudian memicu tanggung jawab baru dalam menjaga harmoni dengan alam. Selain itu, tatangar menunjukkan bagaimana mimpi dan tanda alam diintegrasikan menjadi panduan praktis kehidupan, jauh dari sekadar takhayul.
Tafsir mimpi Urang Banjar, yang tercermin dalam tatangar, adalah bukti kekayaan budaya yang memadukan spiritualitas, ekologi, dan kearifan lokal. Dalam setiap mimpi, tersimpan narasi yang menghubungkan manusia dengan leluhur, alam, dan masa depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemendikbud, Balai Bahasa Bamjarmasin, ULM/PPJP