Seorang petugas pemadam jebakaran yang menyemprotkan air ke kobaran pi (Pinterest/Freepik)
KALSEL – Kolaborasi warga dan pemerintah menciptakan sistem pemadaman kebakaran terpadu terbesar se-Asia, dengan ribuan relawan yang siap siaga
Banjarmasin tidak hanya dikenal sebagai "Kota Seribu Sungai". Ibu kota Kalimantan Selatan ini menyandang julukan lain yang lebih mencerminkan solidaritas warganya: "Kota Seribu Pemadam Kebakaran". Julukan ini bukan sekadar metafora, melainkan tercatat secara resmi dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2015 untuk kategori Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Masyarakat Terbanyak se-Asia .
Angka yang Mengagumkan
Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banjarmasin, tercatat lebih dari 600 unit BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) yang memiliki kendaraan operasional pada tahun 2024. Namun, yang lebih mengesankan adalah jumlah relawan yang mencapai puluhan ribu orang, dengan 5.214 relawan terdaftar dalam program jaminan sosial BPJAMSOSTEK per 2024 . Sebuah liputan jurnalistik bahkan memperkirakan jumlah relawan mencapai 6.000 orang – angka yang membuat julukan "seribu damkar" menjadi sangat relevan.
Akar Sejarah yang Mendalam
Keunikan Banjarmasin sebagai kota dengan ribuan pemadam kebakaran memiliki akar sejarah yang dalam. Pemadam kebakaran pertama kali dibentuk secara resmi pada tahun 1919, ketika Banjarmasin berstatus sebagai gemeente (kotamadya) di era Hindia Belanda.
Baca juga: Lokbin Barito Akan Digabung dengan Kantor Pemadam dan Satpol PP
Pembentukan ini dilatarbelakangi kondisi pemukiman warga yang umumnya terbuat dari kayu dan sangat rentan kebakaran, terutama pada musim kemarau.
Faktor Geografis dan Sosial
Beberapa faktor menjadikan Banjarmasin memiliki begitu banyak barisan pemadam kebakaran:
1. Kondisi geografis: Struktur tanah rawa dan banyaknya aliran sungai memudahkan pencarian sumber air untuk pemadaman, namun juga memengaruhi akses dan risiko kebakaran .
2. Tipe bangunan: Dominasi material kayu dan usia bangunan yang tua membuat risiko kebakaran semakin tinggi, terutama dengan instalasi listrik yang tidak sesuai standar .
3. Budaya gotong royong: Tingginya solidaritas sosial mendorong warga secara organik membentuk pos-pos untuk saling membantu saat terjadi kebakaran .
Baca juga: Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara News, Berita Banjarmasin, Bakabar