Momentum pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus menunjukkan tren positif hingga memasuki pertengahan tahun 2026. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi dan fiskal daerah ini tetap stabil dan tangguh di tengah dinamika perekonomian nasional yang fluktuatif.
Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Bumi Lambung Mangkurat ini berhasil mencatatkan angka impresif sebesar 5,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menjadi fondasi kuat bagi pergerakan roda ekonomi Kalsel pada bulan-bulan berikutnya.
Realisasi APBN dan APBD Kalsel yang Sehat
Kesehatan ekonomi Kalimantan Selatan tidak lepas dari efektivitas pengelolaan keuangan negara di daerah. Hingga 31 Mei 2026, realisasi Belanja Negara di Kalsel telah menembus angka Rp11,92 triliun, atau sekitar 39,79 persen dari total pagu anggaran yang disediakan.
Pendorong utama penyerapan anggaran ini berasal dari sektor Transfer ke Daerah (TKD) yang nilainya mencapai Rp8,33 triliun. Penyaluran belanja negara yang semakin efektif ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Kalsel.
Sejalan dengan APBN, konsolidasi kinerja APBD Kalsel hingga Mei 2026 juga memperlihatkan kondisi yang sangat sehat dengan mencatatkan surplus fiskal sebesar Rp984,86 miliar. Ruang fiskal yang longgar ini memberikan fleksibilitas bagi pemerintah daerah untuk mengeksekusi program pelayanan publik secara optimal.
Neraca Perdagangan Surplus Berkat Batu Bara
Sektor perdagangan luar negeri menjadi bintang utama dalam pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan. Pada Mei 2026, neraca perdagangan Kalsel kembali membukukan surplus yang signifikan sebesar 922,44 juta dolar AS. Angka surplus ini tumbuh 6,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, serta melonjak 14,45 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Aktivitas ekspor masih menjadi penopang utama dengan nilai mencapai 1,108 billion dolar AS, meningkat 7,7 persen secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh tingginya volume pengiriman komoditas batu bara, yang saat ini masih mendominasi dengan kontribusi lebih dari 50 persen dari total nilai ekspor Kalsel.
Di sisi lain, nilai impor Kalsel juga merangkak naik sebesar 16,1 persen (yoy) menjadi 186,12 juta dolar AS. Kenaikan impor ini utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan pasokan minyak petroleum untuk mendukung aktivitas industri lokal.
Tantangan Inflasi dan Langkah Antisipasi Daerah
Meski pertumbuhan ekonomi melaju kencang, Kalimantan Selatan masih menghadapi tantangan di sektor harga. Inflasi tahunan Kalsel pada Mei 2026 tercatat berada di angka 4,22 persen (yoy), angka yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat inflasi nasional sebesar 3,08 persen. Secara bulanan (month on month), Kalsel mengalami inflasi tipis sebesar 0,20 persen.
Kenaikan harga komoditas pangan dan gaya hidup seperti beras, minyak goreng, emas perhiasan, ikan nila, dan sigaret kretek mesin menjadi motor penggerak inflasi tahunan. Beruntung, tekanan ini sedikit diredam oleh penurunan harga daging ayam ras, telur ayam, serta ikan gabus di pasaran.
Merespons tantangan ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan bergerak cepat mengamankan stabilitas harga pangan. Hingga Mei 2026, pemerintah telah menggelar 355 kali operasi pasar murah dan menyalurkan 5,47 ribu ton beras SPHP langsung ke masyarakat.
Langkah jangka panjang juga mulai berjalan melalui program cetak sawah seluas 30 ribu hektare, panen raya jagung di Tanah Laut, dan peningkatan konektivitas jalan di Kotabaru. Melalui sinergi erat antara pemerintah pusat, daerah, dan Bank Indonesia, Kalsel optimis dapat menjaga daya saing ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel