Kamis, 31 JULI 2025 • 19:45 WIB

Fenomena Anak Muda Merantau dari Kalsel ke Kota Besar: Antara Peluang dan Tantangan

Author

Seseorang sedang melukis di depan kanvas putih (Pinterest/レタスクラブ)

Urbanisasi bukanlah hal baru di Indonesia, tetapi fenomena anak muda Kalimantan Selatan (Kalsel) yang memilih merantau ke kota besar terus menunjukkan tren meningkat.

Mereka pergi dengan beragam alasan—mulai dari mengejar pendidikan yang lebih baik, mencari pekerjaan dengan upah lebih tinggi, hingga terpikat oleh gaya hidup perkotaan yang terlihat gemerlap di media sosial. Namun, di balik gelombang migrasi ini, ada cerita kompleks tentang harapan, perjuangan, dan dampak sosial-ekonomi yang mengikutinya.  

Merantau: Sebuah Tradisi yang Berubah  

Berdasarkan data BPS Kalsel (2023), puluhan ribu penduduk provinsi ini telah merantau ke luar daerah, dengan tujuan utama seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Yang menarik, daerah pedalaman seperti Hulu Sungai memiliki angka migrasi lebih tinggi dibandingkan kota-kota seperti Banjarmasin atau Banjarbaru. Hal ini menunjukkan ketimpangan akses ekonomi dan pendidikan antardaerah menjadi pendorong utama urbanisasi.  

Studi Interdisciplinary Explorations in Research Journal (2024) mengungkap bahwa diaspora masyarakat Banjar—suku dominan di Kalsel—tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap.

Baca juga: Imigrasi Baubau Deportasi 31 WNA Vietnam karena Aktivitas Tak Sesuai Izin

Jika dulu perantau Banjar banyak bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, kini generasi muda lebih memilih sektor jasa, perdagangan, atau industri kreatif. Mereka membentuk komunitas kuat di perantauan, memanfaatkan jaringan masjid, majelis taklim, atau paguyuban daerah sebagai "rumah kedua" untuk saling mendukung.  

Dampak di Daerah Asal dan Tujuan  

Di Kalsel, gelombang urbanisasi meninggalkan kekosongan tenaga produktif. Sektor pertanian mulai didominasi oleh generasi tua, sementara anak muda lebih memilih bekerja di kota. Meski begitu, tidak sedikit yang mengirim uang (remitansi) atau bahkan pulang untuk membuka usaha kecil seperti warung atau agrowisata.  

Sementara di kota besar, para perantau seringkali menghadapi tantangan serius. Banyak yang terjebak dalam pekerjaan informal dengan upah rendah dan minim perlindungan sosial. Namun, kota juga menawarkan peluang—akses pendidikan tinggi, pelatihan vokasi, dan jaringan bisnis yang lebih luas.  

Kisah Unik di Balik Urbanisasi  

Salah satu fenomena menarik adalah gelombang urbanisasi pasca-Lebaran. Banyak pemudik muda memanfaatkan momen pulang kampung untuk sekaligus membawa sanak saudara ke Jakarta, mencari pekerjaan baru. Data menunjukkan 78,5% dari mereka hanya berpendidikan di bawah SLTA, menunjukkan betapa kuatnya faktor ekonomi dalam keputusan merantau.  

Baca juga: 10 Tips Manifesting Supaya Dapat Izin Merantau: Cara Keluar dari Zona Nyaman!

Selain itu, komunitas mahasiswa Banjar di Yogyakarta dan Jakarta sering mengalami culture shock sebelum akhirnya beradaptasi. Proses ini biasanya melalui empat fase: honeymoon (antusiasme awal), krisis (keterkejutan budaya), adaptasi (penyesuaian), dan penerimaan (merasa nyaman dengan lingkungan baru).  

Bagaimana Masa Depan Urbanisasi Kalsel?  

Untuk mengurangi dampak negatif urbanisasi, diperlukan kebijakan yang fokus pada pengembangan ekonomi lokal. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:  
1. Diversifikasi usaha desa, seperti agrowisata atau UMKM berbasis digital.  
2. Pembangunan pusat pelatihan vokasi di kabupaten/kota untuk mengurangi ketergantungan pada migrasi.  
3. Fasilitasi jejaring diaspora, misalnya melalui program mentoring atau platform digital yang memudahkan perantau berkontribusi bagi daerah asal.  

Fenomena urbanisasi anak muda Kalsel adalah cerminan dari ketimpangan pembangunan sekaligus dinamika sosial yang terus berubah. Jika dikelola dengan baik, gelombang migrasi ini bisa menjadi modal sosial dan ekonomi—bukan hanya bagi perantau, tetapi juga bagi kampung halaman yang mereka tinggalkan.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News, Interdisciplinary Explorations In Research Journal, BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU