Kalimantan Selatan– Kunjungan tim evaluasi Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 dari Norwegia ke Kalimantan Selatan mengungkap capaian dan tantangan kritis dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Meski 75% tanaman tumbuh dengan baik, kelangkaan pasokan air untuk irigasi menjadi hambatan utama yang mengancam keberlanjutan proyek. Temuan ini memicu rekomendasi pembangunan sumur bor dan peningkatan manajemen kelompok tani.
Kemitraan Indonesia-Norwegia dan Target Ambisius
Program RHL, bagian dari inisiatif FOLU Net Sink 2030, bertujuan memulihkan lahan terdegradasi sekaligus meningkatkan penyerapan karbon.
Baca juga: Berjulukan Atap Kalimantan Selatan, Inilah Fakta Singkat Gunung Halau-halau!
Norwegia telah berkontribusi US$216 juta melalui mekanisme berbasis hasil, sementara Indonesia mengalokasikan kurang dari US$300 juta/tahun untuk mencapai target penyerapan bersih 140 juta ton CO₂e pada 2030. Kalimantan Selatan menjadi salah satu lokasi prioritas untuk rehabilitas 1.724 hektare dengan dana Rp38,19 miliar.
Pujian untuk partisipasi masyarakat, seperti Kelompok Tani Hutan (KTH) Berkah Sulasih, yang mengelola mengelola agroforestri durian, petai, dan alpukat di lahan 70 hektare dilayangkan oleh Duta Besar Norwegia Rut Kruger Giveri.
Tantangan Air dan Solusi Mendesak
Tim Norwegia menemukan kekurangan air irigasi di KTH Bumi Sejahtera (Kabupaten Banjar), yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman karet dan buah. Arif Rusman Yamin, Project Leader FOLU, menyarankan pembangunan sumur bor oleh Dinas Kehutanan Kalsel dengan dukungan pendanaan Norwegia.
"Tanaman karet dan buah-buahan membutuhkan pasokan air konsisten, terutama di musim kemarau. Sumur bor bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi perlu integrasi dengan pengelolaan air regional," kata Yamin dalam keterangan resmi.
Baca juga: Tips Menghadapi Musim Kemarau Panas di Kalimantan Selatan
Pelajaran dari Kalimantan Selatan dan Langkah ke Depan
Melalui inisiatif lokal seperti "Revolusi Hijau" dan kolaborasi multi-pihak mendorong keberhasilan Kalsel kali ini. Namun, masalah air mengingatkan pada kompleksitas implementasi RHL di lapangan. Rekomendasi lain mencakup:
1.Kemitraan dengan offtaker untuk jaminan pasar hasil panen.
2. Pelatihan manajemen pasca-tanam bagi kelompok tani.
3. Replikasi model agroforestri berbasis masyarakat.
"Kalimantan Selatan membuktikan bahwa partisipasi lokal adalah kunci keberhasilan RHL. Namun, dukungan infrastruktur seperti irigasi harus diperkuat," tegas Giverin.
Prospek dan Tantangan Global
Evaluasi ini mempertegas pentingnya pendekatan holistik dalam program iklim. Solusi teknis seperti sumur bor perlu dibarengi dengan strategi pengelolaan air jangka panjang. Dengan dukungan Norwegia dan komitmen pemerintah daerah, Kalsel berpotensi menjadi model nasional untuk mencapai target *FOLU Net Sink 2030*—jika tantangan air dan ekonomi masyarakat terjawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: KLHK RI, Pemerintah Kalimantan Selatan, Tim Evaluasi FOLU Net Sink Norwegia