KALSEL - Kalimantan Selatan tidak hanya terkenal dengan sungainya yang membentang luas, tetapi juga sebagai salah satu penyangga utama energi batubara Indonesia. Kekayaan ini bukanlah fenomena instan, melainkan hasil dari perjalanan geologi yang panjang dan unik, dimulai sejak puluhan juta tahun yang lalu. Artikel ini mengajak kita menelusuri proses pembentukan batubara di Bumi Lambung Mangkurat ini.
Dari Rawa Tropis Purba ke Batubara Berkualitas
Pada Zaman Eosen, sekitar 56 hingga 34 juta tahun lalu, wilayah Kalimantan Selatan merupakan cekungan sedimentasi besar beriklim tropis. Di cekungan seperti Cekungan Barito dan Asam-asam, berkembang rawa-rawa tropis yang sangat luas . Di bawah iklim dengan curah hujan tinggi, tumbuhan yang mati menumpuk dengan cepat membentuk lapisan gambut yang sangat tebal.
Seiring waktu, tekanan dan panas dari sedimen yang menimbun di atasnya secara alami mengkompaksi dan mengubah gambut tersebut menjadi batubara. Salah satu faktor penentu kualitas batubara di wilayah ini adalah lingkungan pengendapannya.
Baca juga: Transportasi Online Kalsel: Gojek, Grab, Maxim - Layanan, Tarif, & Regulasi
Studi menunjukkan, batubara Formasi Tanjung (Eosen) diendapkan di rawa-rawa yang didominasi vegetasi palem dan pakis, dengan pengaruh air tanah yang cukup tinggi . Kondisi ini menghasilkan batubara dengan kandungan belerang yang sangat rendah, menandakan pengaruh air laut yang minimal meskipun di lingkungan dataran pantai .
Perbedaan Karakter dari Setiap Zaman
Tidak semua batubara di Kalsel sama. Terdapat perbedaan mencolok antara batubara dari formasi geologi yang berbeda usia. Bandingkanlah dua formasi utama ini:
Batubara dari Formasi Warukin (Miosen) umumnya lebih tebal dan terbentuk di rawa yang lebih tinggi dan stabil, yang didominasi oleh pohon-pohon berkayu keras seperti Dipterocarpaceae, yang menghasilkan resin . Hal ini berkontribusi pada karakteristiknya yang berbeda dengan batubara Eosen.
Geometri dan Kondisi Geologi yang Kompleks
Baca juga: Rekomendasi Wisata Alam Ramah Anak: Petualangan Seru dan Edukatif untuk Keluarga
Di lapangan, lapisan batubara tidak selalu menerus dan rata. Penelitian di daerah Bunati, Tanah Bumbu, menunjukkan bahwa lapisan batubara pada Formasi Dahor (lebih muda) memiliki sebaran yang tidak teratur, menebal, menipis, dan terpisah-pisah dengan geometri yang bervariasi . Variasi ini dipengaruhi oleh proses geologi selama dan setelah pengendapan (syn-depositional dan post-depositional), seperti struktur patahan dan lipatan yang menggeser lapisan batubara . Pemahaman mendalam tentang geometri ini sangat penting untuk memperkirakan sumber daya dan cadangan batubara secara akurat.
Warisan Alam yang Menjadi Penggerak Ekonomi
Proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun ini akhirnya membentuk sumber daya yang kini menjadi penggerak ekonomi utama Kalimantan Selatan. Kandungan batubara yang berkualitas, dengan lendir abu dan belerang rendah, menjadikannya komoditas yang bernilai tinggi. Sungai-sungai besar, terutama Sungai Barito, kemudian berperan sebagai jalur transportasi vital untuk mengangkut kekayaan purba ini ke pasar global.
Dengan demikian, kekayaan batubara Kalimantan Selatan adalah cerita tentang waktu, tekanan, dan kondisi iklim yang sempurna. Ia adalah warisan geologi yang tidak ternilai, yang pemahaman akan pembentukannya menjadi kunci untuk pengelolaan yang bertanggung jawab di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Direct, Jurnal Geosains Dan Teknologi, Jurnal Geologi Dan Sumberdaya Mineral