Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 19:11 WIB

Nasihat Urang Bahari: Kearifan Lokal Masyarakat Banjar dalam Menghadapi Kehidupan

Author

Suasana bahari dimana semua perempuan berkumpul (Pinterest/potolawas)

KALSEL - Dalam arus modernisasi yang deras, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan masih memegang teguh warisan leluhur berupa nasihat bijak yang dikenal sebagai "papadah" atau "nasihat Urang Bahari".

Ungkapan-ungkapan tradisional ini bukan sekadar peribahasa biasa, melainkan kurikulum informal yang mengandung pedoman moral, etika sosial, dan strategi survival yang telah teruji waktu. Dibentuk oleh lingkungan sungai dan laut yang menjadi denyut nadi kehidupan, kearifan ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.

Akar Bahari dalam Kearifan Banjar

Masyarakat Banjar secara historis merupakan komunitas bahari yang kehidupan ekonominya bergantung pada sungai, rawa, dan laut. Istilah "Urang Bahari" merujuk pada generasi tua atau leluhur yang mewariskan pengetahuan tradisional melalui ungkapan-ungkapan bijak. Lingkungan geografis yang penuh tantangan ini melahirkan nasihat-nasihat praktis yang relevan dengan kondisi mereka, seperti: 

Baca juga: Mengapa Chat WhatsApp Gen Z Banyak Huruf Kecil, Emoji Nangis, dan Campur Inggris? Ini Penjelasan Linguistiknya!

"Apik-apik kalu tabarusuk" (Berjalan hati-hati agar tidak terperosok) .

Nasihat ini tidak hanya berlaku untuk navigasi di perairan, tetapi juga metafora untuk kehati-hatian dalam mengambil keputusan hidup.

Fungsi Sosial dan Nilai yang Ditransmisikan

Papadah Banjar berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan transmisi nilai-nilai luhur. Studi akademis mengidentifikasi beberapa nilai inti yang terkandung:

  • Etika Sosial: Menekankan penghormatan pada orang tua, gotong royong, dan kesopanan dalam berbicara.
  • Praktikal Survival: Kewaspadaan dan penilaian risiko sebelum bertindak, crucial untuk masyarakat yang hidup di lingkungan perairan.
  • Religiusitas: Banyak nasihat selaras dengan ajaran Islam, memperkuat norma sosial dan spiritual.

Baca juga: 5 Zodiak yang Paling Sering Bikin Mantan Menyesal Setelah Putus, Apa Kamu Termasuk?

Contohnya, peribahasa "Amun bapandir di bawah-bawah, amun mandi di hilir-hilir" mengajarkan kerendahan hati dalam tutur kata dan perilaku.

Metafora Alam yang Kaya

Keunikan papadah Banjar terletak pada penggunaan metafora alam yang kaya, terutama fauna sungai dan laut. Hal ini membuat nasihat mudah diingat dan memiliki daya evokatif yang kuat:

"Halus-halus iwak, ganal-ganal biawak" (Kecil-kecil ikan, besar-besar biawak) .

Ini mengajarkan untuk melihat nilai manfaat dari sesuatu, bukan hanya penampilan luarnya. Metafora seperti ini menunjukkan keintiman budaya Banjar dengan lingkungannya.

Tantangan Pelestarian dan Upaya Modern

Baca juga: 3 Rekomendasi Game Buatan Indonesia yang Seru Dimainkan Berdua via HP

Meskipun kaya nilai, warisan lisan ini menghadapi ancaman pelestarian. Generasi muda semakin tidak akrab dengan bentuk-bentuk tutur tradisional akibat urbanisasi dan perubahan media. Beberapa upaya yang bisa dilakukan:

1. Dokumentasi Terstruktur: Mengumpulkan papadah dari penutur tua dan membuat korpus digital.

2. Integrasi Kurikulum: Memasukkan papadah ke dalam pendidikan karakter di sekolah-sekolah lokal.

3. Adaptasi Media Kreatif: Mengubah nasihat tradisional into format video pendek, lagu, atau komik yang menarik bagi generasi digital.

Nasihat Urang Bahari adalah permata kearifan yang tidak hanya milik masyarakat Banjar, tetapi juga warisan budaya Indonesia yang berharga. Dalam setiap papadah tersimpan filsafat hidup yang dalam, cara melihat dunia, dan strategi adaptasi yang telah dibentuk oleh pengalaman kolektif selama generasi.

Baca juga: Konten Kreator Kalsel Mendunia: Dari Parodi hingga Tutorial, Bukti Potensi Banua di Era Digital

Melestarikan warisan ini bukan sekadar melindungi kata-kata usang, tetapi merawat jati diri dan menuai inspirasi untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Seperti diajarkan dalam papadah: "Dimamah dahulu hanyar ditaguk" (Kunyah dulu sebelum ditelan) — sebuah seruan untuk selalu bersikap hati-hati dan penuh pertimbangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: IDN Times, Kumparan, Wikiquote

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU