Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 04:31 WIB

Menguak Asal-usul Nama Kalimantan: Dari Kalamanthana hingga Negeri Seribu Sungai

Author

Ilustrasi Pegunungan Meratus (Dok. AI)

KALSEL - Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana nama "Kalimantan" berasal? Pulau terbesar ketiga di dunia ini menyimpan lapisan sejarah penamaan yang begitu kaya, merentang dari kosakata Sanskerta kuno hingga legenda suku asli. 

Nama ini bukan sekadar label geografis, melainkan sebuah kanvas yang melukiskan identitas budaya, mitos, dan kondisi alam pulau tersebut.

Warisan Bahasa Sanskerta dan Interpretasi Lokal

Salah satu teori tertua dan paling melekat mengaitkan nama Kalimantan dengan bahasa Sanskerta, "Kalamanthana". Kata ini berarti "pulau dengan udara yang sangat panas atau membakar", sebuah deskripsi yang sangat sesuai dengan iklim tropisnya yang lembap dan panas. Seiring waktu, pelafalan "Kalamanthana" diduga mengalami penyederhanaan menjadi "Kalimantan" yang kita kenal sekarang.

Baca juga: Langit Kalsel: Dari Awan Pelangi hingga Kabut Asap, Menguak Fenomena Langit Borneo Selatan

Di sisi lain, interpretasi lokal justru lebih puitis. Banyak yang meyakini nama ini berasal dari gabungan kata "kali" (sungai) dan "mantan" (banyak), yang secara harfiah berarti "pulau yang memiliki banyak sungai". 

Julukan "Pulau Seribu Sungai" pun lahir dari sini, menggambarkan dengan sempurna geografi Kalimantan yang dirajut oleh jaringan sungai-sungai besar dan kecil yang menjadi urat nadi kehidupan.

Nama Etnis dan Kisah Mitologis

Antropolog seperti C. Hose dan MacDougall (1926) memberikan perspektif berbeda. Mereka menyatakan bahwa "Kalimantan" mungkin dipinjam dari nama kelompok etnis asli, khususnya "Klemantan", yang merupakan salah satu sebutan untuk sub-suku Dayak Darat. Teori ini mengakar pada identitas masyarakat asli pulau itu sendiri.

Narasi yang tak kalah menarik datang dari cerita rakyat. Masyarakat Dayak Ngaju, misalnya, memiliki legenda Tetek Tatum yang menyebut pulau mereka sebagai "Negeri Tempat Tiga Putri". Ada pula mitos tentang pohon "klemantan", sejenis pohon mangga lokal yang melambangkan kesuburan tanah, sehingga pulau ini dijuluki "Pulau Mangga". Walaupun lebih bersifat mitologis, kisah-kisah ini memperkaya khasanah budaya dari nama Kalimantan.

Baca juga: 10 SMA Terbaik di Kalimantan Selatan: Prestasi Akademik dan Keunggulan yang Membanggakan

Penyebutan oleh Dunia Luar dan Kesimpulan

Catatan sejarah dari luar Nusantara menunjukkan bahwa pulau ini telah lama dikenal. Bangsa Tiongkok abad ke-10 menyebutnya "Boni" atau "Bo-ni", merujuk pada sebuah kerajaan maritim di utara. Sementara itu, naskah Jawa Negarakretagama (1365) dari era Majapahit menyebutnya "Nusa Tanjungnagara".

Orang Eropa pertama yang tercatat menginjakkan kaki di sini adalah biarawan Fransiskan, Odoricus dari Pordenone, pada tahun 1330-an. Nama "Borneo" yang populer secara internasional sendiri berasal dari Kesultanan Brunei, yang disinggahi oleh ekspedisi Magelhaens pada 1521.

Dari "Kalamanthana" yang panas, "Pulau Seribu Sungai" yang basah, hingga "Negeri Tiga Putri" yang mistis, setiap nama mengungkap secuil jati diri Kalimantan. Nama-nama itu adalah cermin yang memantulkan warisan geografi, budaya, dan sejarahnya yang begitu panjang dan memesona.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Catatan Dinasti Song Tiongkok, Song Huiyao (Abad Ke-10-12)., Nagarakretagama (Kakawin Jawa Kuno, 1365)., Hose, Charles, And William McDougall. The Pagan Tribes Of Borneo (1926).

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU