KALSEL - Dunia kerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah gambaran kompleks yang dibentuk oleh kekayaan komoditas, kebijakan pemerintah, dan realitas sosial masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) daerah ini tercatat sebesar 3,89% pada Februari 2024, angka yang relatif rendah secara nasional . Namun, di balik angka yang tampak stabil ini, tersimpan ketergantungan pada sektor primer yang rentan terhadap fluktuasi global dan tingginya proporsi pekerja informal.
Kuantitas versus Kualitas: Membaca Data Tenaga Kerja
BPS Provinsi Kalimantan Selatan secara konsisten merilis data ketenagakerjaan yang menjadi pilar utama analisis. TPT Februari 2024 yang sebesar 3,89% dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 69,55% menunjukkan angka pengangguran terukur yang terkendali. Namun, angka ini tidak sepenuhnya menangkap realitas underemployment dan besarnya proporsi pekerja yang bergantung pada sektor informal.
Struktur ketenagakerjaan Kalsel masih didominasi oleh sektor-sektor yang berhubungan dengan komoditas alam, seperti pertanian/perkebunan, industri pengolahan kelapa sawit, dan pertambangan batu bara. Perubahan harga komoditas internasional langsung berimplikasi pada fluktuasi penyerapan tenaga kerja di lapangan dan pabrik, menciptakan kerentanan terhadap guncangan ekonomi eksternal.
Baca juga: Jam Tangan dan Aura Kekuatan: Benarkah Aksesori Kecil Ini Mengubah Cara Orang Memandang Anda?
Sektor Penopang: Sawit, Batu Bara, dan Layanan Perkotaan
Tulang punggung ekonomi dan penyerap tenaga kerja Kalsel bertumpu pada beberapa sektor kunci:
1. Perkebunan Kelapa Sawit & Industri Pengolahan: Kilang pabrik pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (*kernel*) di berbagai daerah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar untuk posisi produksi, teknis, dan logistik. Kebijakan biodiesel nasional juga menjadi katalis signifikan yang memengaruhi permintaan tenaga kerja di sektor ini.
2. Pertambangan Batu Bara: Aktivitas tambang serta jaringan logistiknya (angkutan sungai dan pelabuhan) terus menjadi sumber lapangan kerja vital, meski sangat dipengaruhi oleh regulasi ekspor dan harga komoditas global.
3. Perdagangan, Konstruksi, dan Jasa: Sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja utama di wilayah urban seperti Banjarmasin dan Banjarbaru, tumbuh seiring dengan laju urbanisasi dan perkembangan infrastruktur.
Baca juga: Kain Sasirangan: Inspirasi DIY untuk Barang Unik Khas Banjar dengan Nilai Budaya
Inisiatif Pemerintah: Menjembatani Skill Gap dan Kebutuhan Industri
Menyadari tantangan mismatch keterampilan, Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) aktif menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas. Inisiatifnya bersifat berbasis klaster kompetensi, sebuah pendekatan terarah yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik industri lokal.
Program sepertipelatihan operator pabrik sawit dan pemagangan industri dirancang untuk memastikan lulusan memiliki skill yang langsung applicable di dunia kerja. Disnakertrans juga rutin menggelar bursa kerja provinsi yang mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, dalam upaya memperluas akses lowongan formal.
Tantangan dan Masa Depan: Diversifikasi dan Data Responsif
Tantangan utama dunia kerja Kalsel adalah ketergantungan berlebihan pada siklus komoditas. Fluktuasi harga CPO dan batu bara dapat dengan cepat mengubah landscape ketenagakerjaan. Selain itu, ekonomi informal yang besar membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih inklusif. Rekomendasi ke depan adalah:
Baca juga: Masa Kerja Sejumlah Pansus DPRD DKI Resmi Diperpanjang
- Penguatan dan Perluasan Vokasi: Memperdalam kerja sama Disnakertrans dengan perusahaan sawit, tambang, dan logistik untuk program pemagangan yang lebih masif.
- Diversifikasi Ekonomi: Mengembangkan manufaktur hilir, pariwisata lokal, dan ekonomi digital untuk mengurangi kerentanan.
- Data dan Monitoring Responsif: Memanfaatkan data terbuka (open data) BPS dan pemprov untuk analisis berkala, sehingga program penyerapan tenaga kerja dapat lebih cepat menyesuaikan dengan perubahan pasar.
Dunia kerja di Kalimantan Selatan adalah cerita tentang resiliensi yang dibangun di atas fondasi komoditas, yang kini berusaha diperkuat dengan investasi pada sumber daya manusia melalui program-program terarah. Angka TPT yang rendah patut diapresiasi, tetapi memahami kompleksitas di balik angka itulah kunci untuk membangun ketenagakerjaan yang lebih berkelanjutan dan inklusif ke depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Diskominfo Kalsel, BPS