Minggu, 14 SEPTEMBER 2025 • 08:00 WIB

Banjarmasin: Kota Seribu Pemadam Kebakaran yang Lahir dari Solidaritas Sosial

Author

Seorang petugas pemadam jebakaran yang menyemprotkan air ke kobaran pi (Pinterest/Freepik)

KALSEL – Kolaborasi warga dan pemerintah menciptakan sistem pemadaman kebakaran terpadu terbesar se-Asia, dengan ribuan relawan yang siap siaga

Banjarmasin tidak hanya dikenal sebagai "Kota Seribu Sungai". Ibu kota Kalimantan Selatan ini menyandang julukan lain yang lebih mencerminkan solidaritas warganya: "Kota Seribu Pemadam Kebakaran". Julukan ini bukan sekadar metafora, melainkan tercatat secara resmi dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2015 untuk kategori Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Masyarakat Terbanyak se-Asia .

 Angka yang Mengagumkan

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banjarmasin, tercatat lebih dari 600 unit BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) yang memiliki kendaraan operasional pada tahun 2024. Namun, yang lebih mengesankan adalah jumlah relawan yang mencapai puluhan ribu orang, dengan 5.214 relawan terdaftar dalam program jaminan sosial BPJAMSOSTEK per 2024 . Sebuah liputan jurnalistik bahkan memperkirakan jumlah relawan mencapai 6.000 orang – angka yang membuat julukan "seribu damkar" menjadi sangat relevan.

 Akar Sejarah yang Mendalam

Keunikan Banjarmasin sebagai kota dengan ribuan pemadam kebakaran memiliki akar sejarah yang dalam. Pemadam kebakaran pertama kali dibentuk secara resmi pada tahun 1919, ketika Banjarmasin berstatus sebagai gemeente (kotamadya) di era Hindia Belanda.

Baca juga: Lokbin Barito Akan Digabung dengan Kantor Pemadam dan Satpol PP

Pembentukan ini dilatarbelakangi kondisi pemukiman warga yang umumnya terbuat dari kayu dan sangat rentan kebakaran, terutama pada musim kemarau.

Faktor Geografis dan Sosial

Beberapa faktor menjadikan Banjarmasin memiliki begitu banyak barisan pemadam kebakaran:

1. Kondisi geografis: Struktur tanah rawa dan banyaknya aliran sungai memudahkan pencarian sumber air untuk pemadaman, namun juga memengaruhi akses dan risiko kebakaran .

2. Tipe bangunan: Dominasi material kayu dan usia bangunan yang tua membuat risiko kebakaran semakin tinggi, terutama dengan instalasi listrik yang tidak sesuai standar .

3. Budaya gotong royong: Tingginya solidaritas sosial mendorong warga secara organik membentuk pos-pos untuk saling membantu saat terjadi kebakaran .

Baca juga: Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif

Tantangan dan Perlindungan Relawan

Kegigihan relawan pemadam kebakaran Banjarmasin tidak lepas dari risiko. Tidak sedikit kecelakaan yang terjadi, baik di perjalanan menuju lokasi maupun saat memadamkan api. Menyadari pentingnya perlindungan bagi para pahlawan tanpa pamrih ini, Pemerintah Kota Banjarmasin bekerjasama dengan BPJAMSOSTEK memberikan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi ribuan relawan . Anggaran yang dialokasikan mencapai Rp803 juta pada tahun 2024, mencakup santunan kecelakaan kerja, kematian, dan pengobatan .

Rekor dan Pengakuan

Bnjarmasin telah dua kali tercatat dalam MURI untuk kategori terkait pemadam kebakaran. Pertama pada 26 September 2004 untuk Barisan Mobil Pemadam Kebakaran Terpanjang se-Indonesia dan Asia Tenggara. Kedua pada 23 Agustus 2015 untuk Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Masyarakat Terbanyak se-Asia . Rekor terakhir dicatat dengan partisipasi 447 unit mobil BPK se-Kota Banjarmasin .

Model Kolaborasi Unik

Yang membuat sistem pemadam kebakaran Banjarmasin unik adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Kendaraan operasional BPK kebanyakan bukan mobil tangki standar, tetapi berupa mini bus atau pick up yang dimodifikasi dengan mesin pemadam dan selang.

Saat terjadi kebakaran, relawan dari berbagai kecamatan langsung bergerak menuju lokasi – sebuah solidaritas yang kadang menyebabkan kemacetan karena banyaknya jumlah relawan yang turun tangan .

Baca juga: Danau-danau Estetik di Kalimantan Selatan: Surga Tersembunyi untuk Spot Foto Ikonik

Keberadaan ribuan relawan pemadam kebakaran di Banjarmasin bukan hanya tentang penanganan darurat kebakaran, tetapi juga mencerminkan ketahanan komunitas dan tanggung jawab sosial warga kota.

Dengan terus meningkatnya perhatian terhadap keselamatan relawan dan pengembangan kapasitas melalui pelatihan, model Banjarmasin dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia dalam membangun sistem penanggulangan kebakaran yang berbasis masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News, Berita Banjarmasin, Bakabar

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU