Kalimantan Selatan menyimpan kekayaan budaya yang hidup di tengah riak sungainya. Di sini, pasar bukan sekadar tempat transaksi, melainkan panggung tradisi yang telah berlangsung sejak era Kesultanan Banjar. Tiga pasar legendaris - Pasar Terapung Muara Kuin, Pasar Terapung Lok Baintan, dan Pasar Intan Martapura - menjadi saksi bisu harmoni antara manusia, sungai, dan warisan leluhur.
Pasar Terapung Muara Kuin: Pusaran Sejarah di Atas Sungai Barito
Sejak abad ke-16, Pasar Terapung Muara Kuin telah menjadi jantung perdagangan Banjarmasin. Berdiri di pertemuan Sungai Kuin dan Barito, pasar ini lahir dari strategi ekonomi Kerajaan Banjar di bawah Sultan Suriansyah. Kini, setiap subuh, ratusan jukung (perahu kayu) berjejal di sungai, dihiasi pedagang perempuan bertanggui (topi daun rumbia) yang menjajakan sayur, buah, dan kudapan khas seperti soto Banjar. Uniknya, sistem barter bapanduk masih lestari di sini - sebuah tradisi langka di era modern.
Baca juga: Spot Foto Ikonik Di Banjarmasin yang Wajib Dikunjungi!
Bagi wisatawan, pengalaman naik klotok (perahu bermotor) menyusuri pasar sambil menikmati sarapan di atas air adalah momen tak terlupakan. Sayangnya, gempuran pembangunan sempat membuat pasar ini nyaris punah, sebelum dihidupkan kembali di lokasi baru dekat Makam Sultan Suriansyah pada 2020.
Pasar Terapung Lok Baintan: Gemuruh Ekonomi di Sungai Martapura
Berbeda dengan Muara Kuin, Pasar Lok Baintan di Martapura justru semakin semarak. Pasar ini berkembang pesat setelah ibu kota Kesultanan Banjar pindah ke Martapura pada abad ke-17. Aktivitasnya dimulai pukul 05.30 WITA, dengan puluhan perahu memadati Sungai Martapura membawa hasil bumi seperti pisang, rambutan, dan umbi-umbian. Seperti Muara Kuin, budaya bapanduk dan penggunaan jukung tetap menjadi ciri khas.
Wisatawan kerap datang sebelum fajar untuk menyaksikan denyut pasar yang autentik. Tak hanya belanja, pengunjung juga bisa menikmati kuliner tradisional seperti bingka (kue kelapa) atau lapat (ketan dibungkus daun) sambil berinteraksi dengan pedagang lokal.
Pasar Intan Martapura: Kilau Warisan Kerajaan Banjar
Jika dua pasar sebelumnya mengandalkan sungai, Pasar Intan Martapura justru memancarkan kemilau batu mulia di daratan. Sejak 1950-an, pasar ini menjadi pusat perdagangan intan dan permata - warisan dari masa kejayaan Kerajaan Banjar yang menguasai tambang intan. Kompleks Cahaya Bumi Selamat (CBS) di jantung pasar menawarkan perhiasan buatan pengrajin lokal, mulai dari cincin berlian hingga kalung zamrud.
Baca juga: 5 Destinasi Wisata Alam di Kalsel yang Instagramable
Arsitektur pasar ini memadukan unsur tradisional dan religius, dengan monumen kaligrafi megah di tengah alun-alun. Tak jauh dari sana, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Al-Karomah atau Makam Guru Sekumpul, menyelami sisi spiritual Martapura yang dijuluki "Kota Serambi Mekah".
Pelestarian di Tengah Arus Zaman
Ketiga pasar ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan benteng terakhir tradisi Banjar. Upaya pelestarian seperti Festival Pasar Terapung dan digitalisasi melalui platform edukasi Edbot.ai untuk pedagang Lok Baintan menunjukkan bahwa warisan budaya bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Bagi yang ingin merasakan langsung, datanglah saat pagi buta - saat sungai dan permata bercerita tentang kegigihan masyarakat Banjar mempertahankan identitas mereka di atas air dan daratan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia Kaya, Wonderful Indonesia, Geopark Meratus