Mengenal Flora dan Fauna Sungai Barito yang Jadi Surga Keanekaragaman Hayati di Kalimantan
Sungai Barito, yang membentang sepanjang 909 km dari Pegunungan Muller di Kalimantan Tengah hingga bermuara di Laut Jawa, bukan hanya jantung kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah, tetapi juga rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari hutan riparian yang lebat hingga ekosistem perairan yang kaya, sungai ini menyimpan cerita unik tentang flora dan fauna endemik yang menakjubkan. Berikut eksplorasi mendalam berdasarkan tiga sumber terpercaya.
1. Fauna Air: Kehidupan di Bawah Permukaan Sungai
Sungai Barito dikenal sebagai salah satu sungai terlebar di Indonesia (650–800 meter) dengan kedalaman rata-rata 8 meter. Perairannya menjadi habitat bagi puluhan spesies ikan air tawar, seperti patin, baung, jelawat, gabus, dan lele, yang menjadi tulang punggung ekonomi nelayan lokal. Namun, ancaman serius seperti penangkapan ikan dengan listrik dan polusi pestisida mengancam populasi ikan lais (famili Siluridae), yang memiliki indeks keanekaragaman 1,59–1,80 di anak sungai Tabuk.
Baca juga: Eduwisata Alam di Banua Anam Mari Menyelami Konservasi Satwa dan Flora Endemik Kalimantan Selatan!
Tak kalah menarik, muara Sungai Barito dihuni oleh buaya muara (Crocodylus porosus), predator puncak yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, aktivitas manusia dan degradasi habitat membuat spesies ini semakin langka.
2. Flora Riparian: Hutan yang Menopang Kehidupan
Sepanjang aliran Sungai Barito, hutan riparian didominasi oleh pohon kayu keras seperti jati, meranti, ulin, dan damar. Pohon-pohon ini tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi habitat bagi satwa darat seperti orangutan, bekantan, dan beruang madu.
Di kawasan hulu Barito, khususnya di Pegunungan Muller, ditemukan 8 spesies kantong semar (Nepenthes), termasuk N. rafflesiana dan N. gracilis yang tumbuh cepat di tanah asam. Tanaman karnivora ini menjadi bukti adaptasi unik flora Kalimantan terhadap lingkungan ekstrem.
3. Satwa Darat: Ikon Endemik yang Terancam
Bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung panjang yang menjadi maskot Kalimantan Selatan, adalah salah satu penghuni paling ikonik di sepanjang Sungai Barito. Populasinya terkonsentrasi di Suaka Margasatwa Pulau Kaget dan Pulau Bakut, meski statusnya "terancam punah" akibat hilangnya habitat [sumber utama 1].
Burung endemik seperti bondol Kalimantan (Lonchura fuscans) dan sempidan biru (Lophura ignita) juga menghuni hutan Pegunungan Muller. Keberadaan mereka menjadi indikator kesehatan ekosistem, meski tekanan deforestasi dan perburuan liar terus mengintai.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Budaya Banjar Melalui Podcast Lokal yang Kaya Konten
Budidaya ikan intensif di Karamba Jaring Apung (KJA) Marabahan menyebabkan eutrofikasi dan penurunan kualitas air akibat limbah pakan. Dampaknya, komunitas mikroalga dan protozoa—indikator kesehatan perairan—terganggu. Di sisi lain, upaya konservasi seperti Suaka Margasatwa Pulau Kaget dan Taman Wisata Alam Pulau Bakut menunjukkan komitmen pelestarian, meski tantangan seperti sampah dan illegal logging masih menghantui.
Sungai Barito adalah mosaik keanekaragaman hayati yang memadukan keindahan alam dengan tantangan konservasi. Dari ikan air tawar yang berlimpah hingga kantong semar yang unik, setiap elemen hidup di sini bercerita tentang harmonisasi dan ketahanan ekosistem. Perlindungan sungai ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Blog An-Nur Lampung, Jurnal Aquatic & Sains Lokal, Studi Ekologi Barito Ulu & Pegunungan Muller