Kalimantan Selatan menyimpan segudang kisah masa lalu yang heroik dan bernilai sejarah tinggi. Salah satu jejak rekam kolonialisme yang masih berdiri kokoh dan patut kita pelajari adalah Benteng Tabanio. Terletak di kawasan pesisir Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, situs cagar budaya ini bukan sekadar tumpukan batu tua biasa. Benteng Tabanio adalah monumen sakral yang merekam pergolakan darah dan air mata rakyat Banjar dalam mempertahankan tanah kelahirannya dari cengkeraman penjajah.
Sejarah Berdirinya Benteng Tabanio
Melongok ke belakang, Benteng Tabanio resmi dibangun pada tahun 1779 oleh kongsi dagang Belanda, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Pembangunan benteng ini didasari oleh letak strategis Desa Tabanio yang berada di jalur perdagangan laut kuno dan kaya akan potensi komoditas alam. Belanda mendirikan benteng pertahanan ini dengan tujuan utama mengamankan monopoli perdagangan lada, emas, dan batu bara di wilayah selatan Kesultanan Banjar, sekaligus menghalau ancaman dari para bajak laut maupun kekuatan Eropa saingan lainnya.
Secara arsitektur, benteng ini dirancang sebagai basis militer pertahanan yang kuat. Dilengkapi dengan pos pengintai, barak pasukan, dan beberapa meriam besar yang diarahkan langsung ke laut lepas, Benteng Tabanio sempat menjadi salah satu pusat kekuatan militer Belanda yang paling ditakuti di pesisir Kalimantan.
Pusat Perlawanan dan Perjuangan Rakyat Banjar
Meskipun dibangun untuk memperkuat dominasi kolonial, kehadiran Benteng Tabanio justru memicu gelombang perlawanan yang dahsyat dari masyarakat lokal. Rakyat Banjar tidak tinggal diam melihat ruang hidup dan jalur perdagangan mereka dirampas secara sepihak oleh bangsa asing.
Sepanjang abad ke-19, benteng ini menjadi sasaran empuk serangan gerilya dalam rangkaian Perang Banjar. Para pejuang Banjar yang pemberani, di bawah koordinasi tokoh-tokoh lokal, berkali-kali melakukan pengepungan dan penyerangan tak terduga ke dalam benteng. Salah satu momen krusial adalah ketika para pejuang berhasil merebut pasokan senjata dari dalam benteng untuk digunakan kembali melawan pasukan Belanda. Benteng ini menjadi saksi bisu betapa gigih dan tak gentarnya semangat perlawanan rakyat Kalimantan Selatan demi merebut kemerdekaan penuh.
Kondisi Saat Ini dan Upaya Pelestarian Cagar Budaya
Kini, Benteng Tabanio telah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya penting di Kabupaten Tanah Laut. Walaupun sebagian besar strukturnya termakan usia dan mengalami pelapukan akibat hantaman abrasi air laut serta cuaca pesisir, sisa-sisa reruntuhan dinding dan pondasinya masih menyisakan aura kemegahan masa lalu yang kuat.
Pemerintah daerah bersama para sejarawan terus berupaya menjaga kelestarian situs ini agar tidak punah ditelan zaman. Upaya pemugaran, pembersihan area, serta promosi sebagai destinasi wisata sejarah terus digalakkan untuk menarik minat generasi muda. Mengunjungi Benteng Tabanio bukan sekadar menikmati sisa-sisa arsitektur Eropa klasik, melainkan sebuah refleksi mendalam untuk menghargai jasa para pahlawan Banjar.
Bagi Anda pecinta wisata sejarah dan budaya, Benteng Tabanio di Kecamatan Takisung wajib masuk ke dalam daftar perjalanan Anda berikutnya saat berkunjung ke Kalimantan Selatan. Mari kita jaga dan lestarikan warisan berharga ini agar kisah perjuangan di Tanah Laut tetap abadi menginspirasi generasi yang akan datang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Https://smart.kalselprov.go.id/