Kenapa Banjarmasin Disebut Kota Seribu Sungai? Ini Sejarah dan Faktanya! (pinterest)
Jika Anda mendengar nama Banjarmasin, hal pertama yang terlintas di pikiran pastilah aliran air yang membelah kota. Ibu kota historis Kalimantan Selatan ini begitu lekat dengan julukan "Kota Seribu Sungai". Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, apakah benar ada seribu sungai di kota ini? Dari mana asal-usul julukan yang begitu ikonik tersebut?
Julukan ini bukan sekadar strategi pemasaran wisata, melainkan cerminan dari identitas geografis, sejarah, dan urat nadi kehidupan masyarakat Banjar yang telah mengalir selama berabad-abad.
Geografi Unik sang Delta
Secara geografis, Banjarmasin adalah sebuah kota delta. Wilayahnya berada di kawasan rawa-rawa dan dikelilingi oleh banyak sungai besar dan kecil. Dua sungai paling dominan yang membelah kota ini adalah Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Dari dua sungai raksasa inilah bercabang ratusan sungai kecil lainnya yang merayap ke setiap sudut kota. Berdasarkan data pemerintah setempat, jumlah sungai yang tercatat aktif di Banjarmasin sebenarnya berkisar antara 60 hingga 100-an sungai. Jadi, kata "seribu" di sini tidak merujuk pada jumlah matematis yang persis, melainkan sebuah hiperbola atau kiasan masyarakat untuk menggambarkan betapa banyaknya aliran sungai yang ada di sana.
Urat Nadi Kehidupan dan Transportasi
Pada masa lalu, sungai adalah satu-satunya jalan raya bagi masyarakat Banjarmasin. Sebelum infrastruktur darat sepadat sekarang, jalur transportasi utama dikuasai oleh perahu tradisional yang disebut jukung atau perahu bermesin bernama kelotok.
Rumah-rumah penduduk pun dibangun menghadap ke sungai, bukan membelakanginya. Rumah adat Banjar seperti Rumah Lanting didesain terapung di atas air menggunakan fondasi batang kayu besar. Bagi masyarakat Banjar, sungai adalah segalanya: tempat mencari nafkah, jalur transportasi perdagangan, sumber air bersih, hingga tempat anak-anak bermain. Itulah mengapa budaya sungai begitu melekat kuat di kota ini.
Pesona Pasar Terapung yang Legendaris
Berbicara tentang Kota Seribu Sungai tidak akan lengkap tanpa membahas Pasar Terapung. Ini adalah warisan budaya yang menjadi bukti nyata betapa sungai mengakar dalam kehidupan ekonomi warga. Ada dua pasar terapung yang paling terkenal, yaitu Pasar Terapung Kuin di Sungai Barito dan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura.
Di pasar ini, transaksi jual beli dilakukan sepenuhnya di atas jukung. Mulai dari sayur-mayur, buah-buahan tropis, kue tradisional khas Banjar, hingga kopi hangat bisa Anda beli dari atas perahu. Keunikan ini menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin merasakan langsung sensasi berbelanja di atas riak air.
Menjaga Warisan di Era Modern
Seiring berjalannya waktu dan pesatnya pembangunan jalan darat, beberapa sungai kecil di Banjarmasin sempat mengalami pendangkalan bahkan hilang. Namun, kesadaran akan identitas "Kota Seribu Sungai" membuat pemerintah dan masyarakat setempat gencar melakukan revitalisasi.
Saat ini, sungai-sungai di Banjarmasin tidak hanya berfungsi sebagai saluran air alami untuk mencegah banjir, tetapi juga ditata cantik menjadi objek wisata air. Menyusuri sungai dengan kelotok di sore hari sambil menikmati pemandangan matahari terbenam kini menjadi salah satu aktivitas wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke Banjarmasin.
Banjarmasin disebut Kota Seribu Sungai karena lanskap alamnya yang dipenuhi jaring-jaring aliran air serta ketergantungan mendalam masyarakatnya terhadap sungai. Julukan ini adalah kehormatan bagi sebuah kota yang berhasil mempertahankan kebudayaan baharinya di tengah gempuran modernisasi. Jika Anda mencari destinasi wisata yang menawarkan kedekatan emosional dengan alam dan budaya air yang eksotis, Banjarmasin adalah jawabannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber