Suasana Haul Abah Guru Sekumpul (@friends_vibration)
Haul Guru Sekumpul yang ke-21 pada Desember 2025 mendatang di Martapura, Kalimantan Selatan, kembali menjadi sorotan utama umat Muslim, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga mancanegara. Peringatan wafatnya ulama kharismatik Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari (Abah Guru Sekumpul) ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah fenomena spiritual dan sosial yang memiliki peran fundamental dalam memperkuat Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim.
Dengan jutaan jemaah yang tumpah ruah setiap tahunnya, Haul Guru Sekumpul telah bertransformasi menjadi momen kolektif yang mendemonstrasikan nilai-nilai luhur Islam, terutama dalam konteks persatuan dan kepedulian sosial.
Magnet Spiritual dan Sentralisasi Umat
Kehadiran jutaan jemaah dari beragam latar belakang suku, ras, dan organisasi Islam ke Martapura adalah bukti nyata dari magnet spiritual yang dimiliki Abah Guru Sekumpul. Mereka datang dengan satu niat: menghormati dan mengambil berkah dari teladan serta ajaran mulia sang Guru.
1. Titik Temu Keimanan: Haul ini berfungsi sebagai titik temu spiritual. Jemaah berkumpul untuk berzikir, membaca manaqib, dan memanjatkan doa bersama. Aktivitas ibadah kolektif ini menghilangkan sekat-sekat perbedaan mazhab atau kelompok, menyatukan hati dalam kekhusyukan yang sama di bawah payung kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta para pewaris nabi, yaitu ulama.
2. Pesan Kesederhanaan dan Cinta: Ajaran Abah Guru Sekumpul yang menekankan pada cinta (mahabbah), ketawadhuan, dan kesederhanaan menjadi ruh utama yang dibawa oleh para jemaah. Spirit ini menciptakan suasana damai dan saling menghormati, fondasi terpenting dari Ukhuwah Islamiyah.
Manifestasi Ukhuwah Islamiyah dalam Aksi Nyata
Peran terbesar Haul Guru Sekumpul ke-21 dalam memperkuat persaudaraan Islam terlihat jelas dalam gerakan solidaritas dan gotong royong masyarakat. Ini adalah pameran amal jariyah skala besar yang dilakukan dengan keikhlasan tanpa pamrih.
● Gerakan Khidmah (Pelayanan Tulus): Ribuan relawan—mulai dari masyarakat lokal, santri, hingga aparat keamanan—berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik (khidmah) kepada para tamu Allah. Mereka menyediakan makanan dan minuman gratis (dapur umum), posko kesehatan, tempat peristirahatan, hingga mengatur lalu lintas.
● Solidaritas Tanpa Batas: Warga Banjar dan sekitarnya rela menjadikan rumah, halaman, bahkan sawah mereka sebagai rest area dan kantong parkir gratis. Aksi berbagi ini melibatkan pengorbanan waktu, tenaga, dan harta, seperti terlihat dari pengiriman kayu bakar dan logistik dari berbagai daerah. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah keragaman, rasa persatuan atas dasar keimanan jauh lebih kuat.
● Peran Pemerintah Daerah: Berbagai instansi, dari Pemprov Kalsel, Pemkab Banjar, hingga Polda Kalsel, aktif terlibat dalam mempersiapkan infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan, evaluasi kantong parkir, hingga pengamanan. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat ini menciptakan ekosistem sosial yang solid untuk mendukung pelaksanaan Haul.
Dampak Jangka Panjang pada Persatuan Umat
Lebih dari sekadar perayaan, Haul Guru Sekumpul menanamkan nilai-nilai moral dan sosial yang berkelanjutan.
1. Pendidikan Karakter: Keterlibatan aktif dalam khidmah mengajarkan empati, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial kepada generasi muda dan masyarakat. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari setelah acara Haul berakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber