Kamis, 02 JULI 2026 • 14:59 WIB

Adu Pukul Bagasing 2026: Cara Keren Museum Lambung Mangkurat Hidupkan Kembali Budaya Banua

Author

Adu Pukul Bagasing 2026: Cara Keren Museum Lambung Mangkurat Hidupkan Kembali Budaya Banua (mckalsel)

Di tengah gempuran game online dan permainan berbasis teknologi yang kini mendominasi keseharian generasi muda, sebuah gaung kearifan lokal kembali menggema di Kalimantan Selatan. UPTD Museum Lambung Mangkurat, yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, sukses menggelar agenda tahunan mereka yang sangat dinanti: Lomba Permainan Tradisional Bagasing dengan tema sentral "Adu Pukul".

Event yang berlangsung meriah di Banjarbaru pada Kamis (2/7/2026) ini bukan sekadar ajang kompetisi musiman. Lebih dari itu, perlombaan ini menjadi simbol komitmen nyata dalam menjaga eksistensi warisan budaya Banua (Kalimantan Selatan) sekaligus wadah silaturahmi yang mempertemukan berbagai komunitas bagasing dari berbagai daerah.

Antusiasme Lintas Daerah dalam Kategori Umum
Tahun ini, atmosfer kompetisi terasa begitu hangat sekaligus menantang. Sebanyak 12 tim dari enam kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan turun gelanggang untuk membuktikan kebolehan mereka. Keterwakilan daerah dalam kompetisi ini cukup merata dan menunjukkan bahwa kecintaan terhadap bagasing masih menyala di berbagai sudut Kalsel.

Kabupaten Barito Kuala menjadi pengirim delegasi terbanyak dengan memboyong lima tim sekaligus. Sementara itu, Kabupaten Tapin mengirimkan tiga tim andalannya. Tak ketinggalan, Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Kabupaten Balangan, dan Kabupaten Tabalong masing-masing turut mengirimkan satu tim terbaik mereka untuk bersaing dalam kategori umum.

Menariknya, kategori umum ini melebur batas usia. Di dalam gelanggang yang sama, antusiasme anak-anak berpadu apik dengan kematangan teknik para pemain dewasa dan senior. Suara benturan gasing kayu yang khas—atau yang akrab disebut "adu pukul"—menjadi daya tarik utama yang memikat perhatian para pengunjung museum.

Misi Regenerasi: Menggeser Dominasi Gadget
Kepala UPTD Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya, menegaskan bahwa penyelenggaraan lomba ini merupakan bentuk tanggung jawab moral museum untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur kebudayaan daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Kami kembali melaksanakan lomba bagasing sebagai agenda tahunan. Kami berharap kegiatan ini dapat mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan di Provinsi Kalimantan Selatan serta menjadi sarana mempererat silaturahmi antar komunitas bagasing,” ujar Ady.
Namun, pihak museum tidak ingin berhenti di sini. Menyadari bahwa tantangan terbesar pelestarian budaya di era digital adalah menarik minat generasi z dan alfa, Ady Surya membeberkan rencana strategis untuk pelaksanaan berikutnya. Museum Lambung Mangkurat berencana membuka kategori khusus anak-anak demi memuluskan proses regenerasi pelaku permainan tradisional.

Langkah ini dirasa sangat krusial mengingat anak-anak zaman sekarang jauh lebih akrab dengan layar gawai ketimbang permainan fisik di lapangan. Melalui perlombaan khusus anak-anak di masa depan, diharapkan mereka bisa mengenal, merasakan langsung keasyikannya, dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap identitas budaya mereka sendiri.

Menggali Filosofi Lewat Seminar Bersama Maestro
Ada yang berbeda pada gelaran tahun ini. Lomba "Adu Pukul" tidak hanya mengandalkan ketangkasan fisik dan adu strategi di lapangan, tetapi juga diperkaya dengan muatan edukasi yang mendalam. Panitia menghadirkan sesi seminar singkat yang mengupas tuntas sejarah, perkembangan, serta filosofi permainan bagasing di Kalimantan Selatan.

Materi seminar tersebut disampaikan langsung oleh sosok kompeten, yakni Maestro Bagasing yang berasal dari Kabupaten Tapin. Kehadiran sang maestro memberikan perspektif baru bagi para peserta dan masyarakat umum yang berhadir. Bagasing bukan sekadar kayu berputar yang dipukul, melainkan sebuah simbol sportivitas, konsentrasi, kebersamaan, dan ketahanan mental yang menjadi ciri khas masyarakat Banjar terdahulu.

Tingginya partisipasi peserta dari berbagai daerah terpencil hingga perkotaan menjadi sinyal positif bahwa denyut nadi permainan tradisional ini belum sepenuhnya mati. Dengan dukungan konsisten dari lembaga seperti Museum Lambung Mangkurat dan antusiasme masyarakat yang terus terjaga, permainan bagasing diharapkan dapat terus berputar melintasi zaman, mengedukasi generasi masa depan, dan tetap lestari sebagai salah satu kekayaan budaya tak benda kebanggaan Kalimantan Selatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU