Kamis, 18 JUNI 2026 • 09:52 WIB

Solusi Cerdas SISKA KU INTIP: Mengubah Perkebunan Sawit Menjadi Lumbung Daging Nasional

Author

Solusi Cerdas SISKA KU INTIP: Mengubah Perkebunan Sawit Menjadi Lumbung Daging Nasional (mckalsel)

Ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Setiap tahunnya, kebutuhan daging nasional mencapai sekitar 800 ribu ton, sementara kapasitas produksi lokal baru mampu menyuplai separuhnya. Untuk menambal defisit tersebut, pemerintah terpaksa mendatangkan daging beku dari Australia, Brasil, India, hingga Selandia Baru.

Namun, jawaban atas persoalan besar ini justru ditemukan di tengah hamparan hijau perkebunan kelapa sawit Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti model bisnis inovatif bernama Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma atau yang dikenal sebagai SISKA KU INTIP.

Efektivitas Breeding Alami di Lahan Sawit
Saat meninjau langsung area konsesi milik PT Buana Karya Bhakti, Hanif menegaskan bahwa model integrasi ini bukan sekadar wacana, melainkan solusi riil yang sudah terbukti sukses. Memulai perjalanan pada tahun 2016 dengan investasi awal Rp6 miliar untuk 300 ekor sapi, kini populasi ternak di perusahaan tersebut telah melonjak drastis hingga menyentuh angka hampir 1.500 ekor.

Kunci keberhasilan lonjakan populasi ini terletak pada penerapan metode pembiakan (breeding) secara alami. Berbeda dengan metode inseminasi buatan yang kerap memerlukan intervensi hormon tambahan, perkawinan alami dinilai jauh lebih efisien dan ramah terhadap karakteristik wilayah tropis tanah air. Seluruh kebutuhan hormon reproduksi terpenuhi secara biologis tanpa biaya tambahan yang membengkak.

Potensi Skala Nasional untuk Menghentikan Impor
Kalimantan Selatan sendiri memiliki sekitar 480 ribu hektare lahan sawit, di mana 250 ribu hektare di antaranya sangat layak diintegrasikan dengan sektor peternakan. Jika potensi ini dioptimalkan, daerah tersebut mampu memelihara sedikitnya 20 ikor sapi sekaligus menutup defisit pasokan daging lokal yang saat ini berada di angka yang sama.

Jika konsep SISKA KU INTIP ditarik ke skala nasional, dampaknya akan jauh lebih masif. Dengan total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang menembus angka 17 juta hektare, integrasi ini berpotensi menghasilkan sekitar 1,3 juta ekor sapi baru. Angka tersebut lebih dari cukup untuk memangkas ketergantungan impor daging secara bertahap dan mengamankan pasokan pangan hewani dalam negeri.

Keuntungan Ganda bagi Sektor Perkebunan
Program SISKA KU INTIP tidak hanya menguntungkan sektor peternakan, tetapi juga membawa dampak positif yang signifikan bagi pengelolaan kebun sawit itu sendiri. Kehadiran kawanan sapi di dalam area perkebunan terbukti mampu menekan biaya pembersihan gulma (weeding) hingga 50 persen sampai 70 persen karena sapi bertindak sebagai pemotong rumput alami. Selain itu, kotoran ternak yang dihasilkan diolah kembali menjadi pupuk organik bermutu tinggi yang mampu mendongkrak kesuburan tanah secara alami.

Melihat keberhasilan nyata ini, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan program di PT Buana Karya Bhakti sebagai role model nasional. Kolaborasi multi-sektor antara pemerintah, pelaku usaha perkebunan, hingga sektor kehutanan kini diharapkan dapat diperluas demi membawa Indonesia menuju swasembada protein hewani yang mandiri dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU