Kalimantan Selatan terus memantapkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan strategis nasional yang patut diperhitungkan. Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan, tercatat capaian Luas Tambah Tanam (LTT) padi hingga akhir Mei 2026 telah menembus angka sekitar 244.873 hektare. Angka progresif ini merepresentasikan 60,7 persen dari total target tahunan yang dipatok sebesar 402.802 hektare. Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi penguatan stabilitas pangan di kawasan pelataran Kalimantan, sekaligus membuktikan ketahanan sektor agraris daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Masliyana, mengungkapkan bahwa penentuan target LTT 2026 didasarkan pada kalkulasi matang. Target komprehensif tersebut dirumuskan melalui rapat koordinasi intensif bersama seluruh dinas pertanian tingkat kabupaten dan kota pada awal tahun ini. Struktur data LTT yang dihimpun setiap hari merupakan akumulasi dari integrasi masif antara aktivitas tanam reguler swadaya petani dan intervensi program pemerintah. Sinkronisasi harian ini dinilai sangat krusial agar fluktuasi tanam di lapangan dapat terpantau secara presisi dan terdokumentasi dengan akurat.
Pilar utama penyokong realisasi hijau ini didominasi oleh empat daerah sentra produksi pangan dengan kepemilikan luas baku sawah terbesar. Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, dan Tapin kembali mengukuhkan dominasinya sebagai motor penggerak utama penyerapan LTT. Kontribusi geografis keempat wilayah ini menjadi tulang punggung dalam menjaga tren positif swasembada beras daerah. Menariknya, meskipun target awal tahun 2026 disetel sedikit lebih konservatif dibanding capaian tahun-tahun sebelumnya, pihak DPKP Kalsel tetap memelihara optimisme tinggi sepanjang musim.
Jika menengok rekam jejak historisnya, tren perkembangan LTT di bumi Lambung Mangkurat memang memperlihatkan kurva pertumbuhan yang sangat impresif dalam beberapa tahun terakhir. Pada kurun waktu tahun 2023, akumulasi luas tambah tanam berada di angka 334.400 hektare. Volume ini kemudian melonjak tajam menjadi 410.932 hektare pada tahun 2024, dan terus meroket hingga menyentuh 478.837 hektare sepanjang tahun 2025. Dinamika target awal tahun yang fleksibel memang sengaja dirancang karena dipengaruhi oleh faktor anomali iklim, namun kehadiran program akselerasi cetak sawah baru, optimasi lahan rawa, dan perluasan budidaya padi gogo diyakini mampu membawa realisasi akhir melampaui ekspektasi awal.
Menyongsong transisi menuju musim kemarau, DPKP Kalsel tidak tinggal diam dalam mengamankan produktivitas lahan petani. Langkah preventif langsung digulirkan lewat distribusi stimulus benih padi varietas unggul serta pelestarian varietas padi lokal untuk memperkuat imunitas sektor pertanian lokal. Stimulus komoditas ini diperkuat pula oleh optimalisasi alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna menjamin rantai pasok kebutuhan input pertanian di tingkat tapak kelompok tani tetap terpenuhi dengan baik.
Selain aspek mekanisasi dan bantuan logistik, intervensi perilaku kultural petani juga menjadi fokus utama pemerintah daerah. Masliyana menggarisbawahi urgensi manajemen waktu pascapanen melalui gerakan olah lahan cepat. Para petani diimbau keras untuk memotong masa jeda tanah agar tidak membiarkan sawah telantar atau menganggur terlalu lama. Standardisasi masa persiapan maksimal 20 hari setelah panen menjadi kunci emas akselerasi LTT periode berikutnya. Ditambah lagi, menyusutnya genangan air di kawasan pertanian rawa prospektif seperti wilayah Alabio, Daha, dan Amuntai pada bulan Juli hingga Agustus diproyeksikan akan membuka keran tambahan luas tanam baru yang signifikan demi memecahkan rekor tahun lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel